Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Zulher

Solidaritas Persaudaraan Pasca-Idul Fitri

27 Agustus 2012 - 08.55 WIB > Dibaca 507 kali | Komentar
 
Hari ini adalah bagian dari rangkaian hari-hari di bulan  Syawal. Pada malam pertama, memasuki bulan kesepuluh dalam penanggalan tahun Hijriyah ini, umat muslim mengawalinya dengan pemujaan pada Ilahirobbi: Tuhan semesta alam.

Takbir, tahlil dan tahmid, dikumandangkan sejak malam 1 Syawal. Untaian kalimat keagungan yang menyahdukan relung semesta. Sesungguhnyalah, kumandang gema takbir merupakan perlambangan kemenangan setelah menghadapi "perang dahsyat"; memerangi hawa nafsu, musuh terbesar diri manusia.

Di bulan Syawal, menjadi hari-hari untuk menikmati “kemenangan luar biasa” bagi setiap mukmin yang sukses menjalankan ibadah puasa sepanjang Ramadan.

Bulan Syawal, menjadi bulan pertama untuk mengaplikasikan segala hasil tunjuk ajar yang digurukan berbagai amaliah Ramadan.

Kita tahu dan meyakini, bahwa Ramadan yang memiliki keistimewaan dibanding sebelas bulan lainnya, memberikan didikan pekerti terhadap beragam hal dengan tatanan hikmah tak terhingga.

Ramadan bulan penuh hikmah; di antaranya terpupuk dan terbinanya kebersamaan dan persaudaraan dalam solidaritas cinta pada tataran ukhuwah Islamiyah.

Bukankah tatanan amaliah ibadah menegaskan, bahwa semua hamba sama di sisi Tuhannya. Nilai ibadah tergantung pada kekhusukan dan keihlasannya.

Semakin khusuk dan semakin ikhlas seorang hamba, maka semakin baik nilainya. Sebaliknya, semakin tidak khusuk dan semakin tidak ikhlas alias ria, maka semakin rusak pula nilai amal ibadahnya.

Nilai terbaik ibadah sama sekali tidak ditentukan tingginya jabatan, banyaknya harta kekayaan, tingginya status sosial kemasyarakatan, cantik dan gagahnya elok rupa maupun hal lainnya yang dalam realitas sehari-hari tak jarang membawa jurang perbedaan dalam hubungan sosial.

Bagi Allah, perbedaaan manusia yang satu dengan yang lain, hanya terbedakan oleh tingkat keimanan, kesalehan, dan ketakwaan kepada-Nya.

Di awal Syawal, ketika merayakan Idul Fitri, kebersamaan umat terlihat dengan kumandang takbir  dengan susun kata sama dan bernada sama.

Oleh karenanya, marilah menghitung diri, bahwa ternyata kita semua, umat muslim dan mukmin se-dunia, sama di mata Allah dengan tidak ada perbedaan secara materil. Itulah timbangan awal untuk penerapan meningkatkan rasa persaudaraan, kepedulian, dan kepekaan sosial.

Satu bulan lamanya, di bulan Ramadan, kita ditempa untuk senasib sepenanggungan. Menaati perintah Allah untuk berpuasa dengan menahan lapar dan dahaga, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

Kita dilatih untuk satu rasa; dengan merasakan penderitaan hamba-hamba dan keluarga-keluarga yang papa dan tak berpunya.

Jelang Idul Fitri, kita diwajibkan membayar zakat fitrah, sebagai simbol perlambangan bahwa di dalam harta yang dimiliki terdapat hak orang lain. Zakat fitrah mengajarkan, setiap orang sangat tidak pantas menyombongkan banyaknya limpahan harta kekayaan kepada saudaranya yang lain.

Sebenarnyalah, silaturrahmi merupakan unci keabadian persaudaraan. Bulan Syawal, juga merupakan bulan silaturrahmi. Dalam bulan ini umat Islam lebih banyak melakukan amaliah silaturrahmi.

Mulai jelang masuknya bulan Syawal untuk ber-Idul Fitri, yang di perantauan merindukan kampung halaman untuk berlebaran bersama keluarga dan handai taulan.

Di bulan Syawal, juga sudah mentradisi untuk saling bermohon maaf dan saling memaafkan atas semua kesalahan dan kekhilafan terhadap sesama.

Kita, umat muslim, saling ber-halal bi halal. Antar karib kerabat saling bermohon maaf yang setidaknya diungkapkan via kartu ucapan, short message service (SMS) dan saling teleponan serta berbagai media permohonan maaf lainnya. Inti dari semua silaturrahmi untuk saling bermaafan tersebut adalah untuk menjalin dan tetap terjaganya hubungan baik dengan sesama manusia (hablumminannas).

Silaturrahmi guna memperkuat jalinan persaudaraan dan kebersamaan tentu tidak sebatas keluarga dekat, handai tolan, karib kerabat, teman dan sahabat, mitra kerja dan pada lingkaran batasan orang-orang yang dikenali secara harfiah. Makna dan pengertian persaudaraan dalam Islam, jauh lebih bebas dan lebih luas dari semua itu.

Persaudaraan menurut Islam bukanlah berlatar ikatan geneologi, tapi lebih dikarenakan ikatan iman dan agama. Itulah ikatan persaudaraan yang terkuat.

Silaturrahmi yang hakiki merupakan hubungan persaudaraan dengan seluruh umat muslim dan seiman yang dikenal dengan ukhuwah Islamiyah.

Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS: Al-Hujurat, ayat: 10).

Ayat tersebut hanyalah satu di antara banyak ayat di dalam kitabullah yang menekankan pentingnya persaudaraan dalam Islam. Seiman dan seakidah, membuat umat Islam menjadi satu padu.

Penderitaan satu orang mukmin, idealnya juga merupakan penderitaan bagi mukmin yang lain. Kebahagiaan seorang mukmin, seharusnya menjadi kebahagiaan bagi mukmin yang lainnya. Itulah, konsep persaudaraan hakiki menurut Islam dengan meninggikan rasa cinta, solidaritas, kebersamaan, kepedulian dan jalinan persaudaraan.

Dalam banyak Hadits-nya, Rasulullah SAW seringkali menegaskan tentang keutamaan dan sangat pentingnya menjaga jalinan ukhuwuah.

Di antara sabda Rasul yang berkenaan dengan persaudaraan adalah mengenai tolok ukur nilai persaudaraan, seperti diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari Anas radialllahu anhu, bahwa Rasulullah SAW, bersabda: “Demi yang diriku di tangan-Nya, seseorang tidak dikatakan beriman, sebelum  ia mencintai saudaranya (yang lain), sebagaimana cintanya kepada diri sendiri".

Sempurnakanlah iman dengan mencintai saudara seiman dan seakidah layaknya mencintai diri sendiri. Kekerabatan memerlukan kecintaan.

Sedangkan kecintaan tidak memerlukan kekerabatan. Sebaik-baik saudara adalah yang membantu, dan yang lebih baik darinya adalah yang mencukupi.

Maka, bantulah saudara yang lain dalam setiap keadaan. Jangan menjadi orang yang memutuskan tali persaudaraan. Tempuhlah berbagai cara yang baik untuk menyambung tali silaturrahmi. Korbankanlah harta untuk sesama saudara se-iman. Saling berbagi dengan rasa kepedulian yang tinggi.

Ketika kita diwajibkan berlapar dan berdahaga melalui ritual ibadah puasa di bulan Ramadan, dalam konteks cinta dan  kepedulian terhadap sesama, hal itu memberikan pelajaran bahwa ternyata lapar memang berat.

Kelaparan merupakan perlambangan dari kepapaan, kefakiran, kemiskinan dan ketidakmampuan secara ekonomi.

Ritualitas ibadah puasa memberikan perenungan, bahwa di hari-hari yang lain, betapa banyak fakir dan miskin yang terpaksa berlapar diri tersebab ketiadaan harta.

Alhasil, di antara hikmah Ramadan yang dapat dipetik adalah munculnya kesadaran kolosal seluruh orang mukmin untuk lebih peduli pada nasib saudaranya yang lain.

Jangan terjebak fatamorgana dunia sehingga mengabaikan kesengsaraan saudara yang lain. Pada tatanan ukhuwah Islamiyah, Ramadan sejatinya telah menciptakan jiwa dan rasa solidaritas yang tinggi kepada setiap mukmin; dimana dalam makna lebih luas adalah terbinanya solidaritas kemanusiaan.

Solidaritas kemanusiaan berlandas cinta persaudaraan dan kebersamaan dalam jalinan ukhuwah Islamiyah,  jelas akan menciptakan kebahagiaan kolosal bagi setiap individu; semua umat muslim.

Sangat ironi, bila ada saudara  se-iman yang harus meneteskan air mata akibat deraan penderitaan atas kefakiran dan kemiskinan. Kesusahan mereka, selayaknya mesti diakhiri.

Karena apa? Tersebab mereka adalah saudara kita yang sebenarnya: suatu jalinan persaudaraan yang disatukan atas dasar keimanan dan akidah yang sama.

Oleh karenanya, hendaknya kita bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. Kebaikan  mencakup semua ketaatan dan semua hal yang dibolehkan untuk dunia dan akhirat. Sedangkan hal-hal yang dilarang agama, tentu tidak termasuk dalam kategori kebaikan.

Mari sempurnakan iman dengan mencintai saudara seiman dan seakidah. Cinta atas sesuatu yang diyakini sebagai suatu kebaikan. Imam Nawawi mengatakan, “cinta merupakan kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan.

Sesuatu yang dicintai tersebut dapat berupa sesuatu yang dapat diindera, seperti bentuk, atau dapat juga berupa perbuatan seperti kesempurnaan, keutamaan, mengambil manfaat atau menolak bahaya. Kecenderungan di sini bersifat ikhtiyari (kebebasan), bukan bersifat alami atau paksaan. Maksud lain dari cinta adalah senang jika saudaranya mendapatkan seperti apa yang dia dapatkan, baik dalam hal-hal yang bersifat indrawi ataupun maknawi.”

Islam mengajarkan kebersamaan dan persaudaraan. Tingginya kepedulian terhadap sesama merupakan di antara simpul untuk terbinanya kebersamaan.

Berbagai ritual ibadah dalam Islam menjadi simbol-simbol perlambangan yang menegaskan betapa pentingnya kebersamaan dan persaudaraan. Sesungguhnyalah, kebersamaan merupakan sesuatu yang teramat indah.

Kebahagiaan dunia dan akhirat, merupakan tujuan pasti dari alur kehidupan. Sememangnyalah, kebahagiaan dalam menjalani prosesi kehidupan, tidak ditentukan oleh banyaknya harta kekayaan.

Kebahagiaan sejati ditentukan sejauhmana setiap hamba mampu untuk menyukuri segala nikmat yang diberikan Tuhan. Itulah di antara pelajaran yang seringkali saya dapat setiap kali berkunjung ke rumah para dhuafa pada senja dan jelang fajar pada rangkaian hari-hari dalam bulan Ramadan. Kunjungan untuk berbuka dan sahur bersama keluarga-keluarga dhuafa itu,  sebenarnya lebih bersifat kunjungan silaturrahmi.

Untuk terbinanya persaudaraan dan kebersamaan dalam tatanan ukhuwah Islamiyah, jadikanlah silaturrahami sebagai perilaku awal. Di mulai sepanjang bulan Syawal, mari aplikasikasikan berbagai hikmah dan pelajaran yang didapat atas binaan berbagai amaliah Ramadan. Bulan Syawal, merupakan masa-masa awal untuk pembuktian berhasil atau tidaknya seorang hamba mencapai predikat takwa.

Jika tujuan itu tercapai, tentu seorang muslim menjadi lebih baik kehidupannya. Akan lebih saleh perbuatannya. Akan lebih khusuk ibadahnya. Akan lebih dermawan dan lebih bermanfaat bagi sesama.  

Tegasnya, berhasil tidaknya seorang hamba dalam memaknai ibadah dan amaliah Ramadan, ditentukan pola hidup dan ibadahnya setelah Ramadan.

Pada tataran kehidupan sosial, urgennya kepedulian terhadap sesama pada jalinan ukhuwah Islamiyah, akan terlihat pada kemampuan seorang hamba dalam mengaplikasikannya mulai di bulan Syawal, setelah ritualitas ibadah dan amaliah Ramadan, tuntas ditunaikan. Kesadaran kolosal atas pengambilan hikmah rasa kebersamaan pada bulan Ramadan, akan menjadi cara sukses guna terjalin dan terjaganya persaudaraan hakiki dan kebersamaan sejati.

Tingkatkan kepedulian sosial. Pasca-Ramadan, kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama, seharusnya memang mesti meningkat.***

Zulher Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau.
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: