Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Samsul Nizar

Pohon Rindang Tanpa Buah

29 Agustus 2012 - 09.01 WIB > Dibaca 860 kali | Komentar
 
Sebatang pohon yang rindang sangat bermanfaat bagi manusia. Ia dapat menjadi pelindung tatkala panasnya matahari menyengat bumi atau berlindung dari guyuran hujan.

Pohon juga ikut berkontribusi pada kehidupan manusia dengan memberikan oksigen kepada makhluk hidup.

Alangkah lengkap dan sempurna, tatkala pohon tersebut kemudian berbuah dengan buahnya yang harum nan manis yang dapat dinikmati oleh manusia, bahkan makhluk ciptaan Allah lainnya.

Namun, alangkah tak sempurnanya pohon, tatkala ia hanya mengandalkan kerindangan daunnya, akan tetapi  tak memilik berbuah. Atau memiliki buah, akan tetapi masam dan pahit nan beracun.

Hanya mengandalkan kerindangan daun dengan menebar sampah yang banyak berguguran bila kemarau tiba, akan tetapi tak memberikan kemanfaatan yang lebih banyak bagi makhluk lainnya.

Perumpamaan di atas merupakan ayat Allah yang dapat menjadi pelajaran bagi manusia yang mau mempergunakan akal dan hatinya.

Alangkah indahnya tatkala tanaman iman yang telah ditanam di tanah Ramadan dengan pupuk ibadah yang diberikan selama Ramadan dan hiasan Idul Fitri pelengkap kepribadian, mampu membuahkan prilaku mulia yang dapat dinikmati oleh semua makhluk.

Prilaku yang mulia dari proses Ramadan dan Idul Fitri sangat diperlukan bangsa ini guna menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi.

Ilmuwan dengan ilmunya seyogyanya menjadi penerang, ulama dengan keulamaannya seyogyanya menjadi penuntun dan penyejuk, pemimpin dengan jabatannya seyogyanya menjadi imam yang adil dan dapat dicontoh, hartawan dengan kekayaannya seyogyanya menjadi fasilitator penyelesaian kemiskinan dengan membuka lapangan kerja, pemuka adat dengan pemahaman nilai-nilai adatnya seyogyanya mampu mempertahankan adat, para pemilik kekuatan dengan kekuasaannya seyogyanya mampu menghancurkan kejahatan Rahwana (bukan malah melindungi kejahatan Rahwana).

Jabatan (apapun jenis jabatan, baik structural atau melekat pada diri) bagaikan pohon rindang, sedangkan kerja nyata dari apa yang dimiliki dengan aktivitas yang dituntun oleh agama akan mampu menjadi buah yang bernilai rahmatan lil alamin.

Jangan memanfaatkan gemerlap kekuasaan yang dipakai untuk menyebarkan dan mengekalkan kejahatan dengan menjadi penjagal yang menggunakan pisau bermata satu nan tajam untuk membunuh lawan, sedangkan sisi lain dari pisau sangat tumpul untuk digunakan bagi diri dan kelompoknya.

Sudah saatnya tidak lagi hanya bangga memamerkan pakaian yang hanya selalu menipu dan sifatnya sesaat. Tatkala pakaian telah koyak, justru orang akan tahu isi yang sesungguhnya.

Bukankah pakaian tersebut hanya pakaian pinjaman yang sewaktu-waktu akan dapat diambil oleh si pemiliknya, yaitu Allah Sang Pemilik yang sesungguhnya.

Puasa mengajarkan nilai-nilai kejujuran yang hakiki.

Meski telah tersedia makanan lezat dan minuman yang mampu mengusir dahaga, para pelaku puasa tidak mau menyantapnya sebelum waktu yang memperbolehkannya untuk menyantap.

Meski tak seorang pun yang akan tahu, para pelaku puasa tak akan melakukan karena sadar bahwa Allah selalu mengawasinya.

Di sini, para pelaku puasa mampu menjadi sosok yang jujur.

Tatkala nilai-nilai kejujuran ini mampu terimplementasi dan secara konsisten dimiliki oleh setiap individu, maka akan dapat dipastikan berbagai dekadensi moral dan berbagai pelanggaran hukum di negeri ini akan mampu terselesaikan secara pasti.

Akan tetapi, tatkala kejujuran yang dilatih oleh puasa hanya mampu bertahan sebatas diperlukan untuk menunjuk diri orang yang beriman, maka kejahatan dan berbagai persoalan bangsa ini akan selalu berlarut-larut menuju keabadian.  

Apalagi bila kejahatan dibungkus dengan bungkus spiritual dan ilmu yang menyesatkan, kekuasaan yang menghalalkan segala cara, dan hukum yang tebang pilih.

Kita tidak lagi memerlukan para peneriak dengan teriakan heroik bagi memproklamirkan diri, tapi miskin aplikasi nyata yang benar-benar membangun kebajikan bagi kemaslahatan seluruh alam semesta.

Sebab, acapkali teriakan hanya sekadar lipstick (dengan sifat lipstick yang mudah terhapus dan tak kekal) agar dunia tahu dan memberitakan kebaikan diri guna menutupi kejahatan yang sistematik nan mematikan, bahkan lebih mematikan dibanding  bom atom yang pernah meluluhlantakkan Heroshima dan Nagasaki.

Pohon rindang yang menghasilkan buah nan ranum tak pernah sombong dengan apa yang dimiliki. Liukan dahannya sangat teratur. Semua makhluk yang singgah akan bahagia.

Gesekan daun dan buahnya mengangungkan asma Ilahi, bukan untuk membanggakan diri. Ia akan dijaga dan dipelihara karena manfaat yang diberikan. Beda dengan pohon yang rindang tapi tak berbuah.

Ia hanya dimanfaatkan pada saat panas matahari menyengat bumi atau hujan turun tiada henti.

Setelah cuaca baik, maka ia akan ditinggalkan seorang diri yang kemudian menunggu untuk ditebang oleh para pembalak liar nan rakus. Itulah sunnatullah yang pasti adanya, hanya menunggu giliran saja.

Di negeri ini, begitu banyak pohon rindang, akan tetapi apakah semuanya telah memiliki buah yang manis dan ranum.

Semuanya tergantung dengan kearifan diri untuk berkaca dengan kaca ajaran Ilahi akan dibawa ke mana keutamaan dimuarakan.

Apakah akan bangga sebatas menjadi sebatang pohon yang rindang tanpa menghasilkan buah untuk dinikmati oleh semua makhluk, atau menjadi pohon nan rindang dengan buahnya yang manis dan ranum yang dapat dinikmati oleh seluruh ciptaan-Nya di muka Bumi.

Semua pilihan ada pada setiap kita. Semoga pilihan kita tidak keliru, mumpung Allah masih memberi peluang untuk kita bisa memilih yang lebih baik. Wa Allahualam bi al-shawwab.***

Samsul Nizar Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau dan Ketua STAI Al-Kautsar Bengkalis.
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: