Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Syamsuddin Muir

Menjual Kulit Hewan Kurban, Bolehkah?

19 Oktober 2012 - 08.33 WIB > Dibaca 606 kali | Komentar
 
Setiap mendekati Idul Adha, pertanyaan yang sering muncul di tengah masyarakat adalah kedudukan hukum menjual kulit kurban.

Dan kedua, hukum membuat ibadah kurban untuk orang yang meninggal dunia. Karena beberapa hari lagi kita akan memasuki hari Idul Adha, maka ada perlunya membahas dua isu ini menurut pandangan fiqh Islam.

Berbagi Pahala
Rasulullah mengatakan, amalan yang paling disukai Allah pada hari Idul Adha adalah ibadah kurban. Hewan kurban akan datang pada hari kiamat lengkap dengan anggota badannya.

Sesungguhnya Allah menerima ibadah kurban itu sebelum darahnya mengalir di tanah. Maka bersihkan jiwamu dengan melaksanakan ibadah kurban (HR. al-Tarmizi). Derajat Hadis ini hasan, tidak lemah (Imam al-Mubarakfuri: Tuhfah al-Ahwazi:5/75).

Mayoritas ulama mengatakan bahwa satu kambing ibadah kurban mencukupi untuk satu keluarga.

Artinya bila seseorang menyembelih satu ekor kambing, maka satu keluarganya telah melaksanakan syiar Islam, dan satu keluarga mendapat pahala dari satu hewan kurban tersebut (Imam al-Nawawi: Kitab al-Majmu:8/354).

Atha bin Yasar mengatakan, pada masa Rasulullah, seorang lelaki menyembelih satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya (HR Imam al-Tarmizi).

Hal ini juga tersebut waktu Rasulullah menyembelih satu ekor kibas untuk dirinya, keluarganya, dan untuk umatnya yang tidak menyembelih hewan kurban (HR Imam Abu Dawud).

Ini yang dimaksud dengan berbagi pahala. Memang, satu ekor kambing hanya untuk satu orang saja. Tapi pahalanya bisa diniatkan juga untuk keluarganya dan sanak saudaranya, sebagaimana dilakukan Rasulullah.

Kurban Orang Meninggal
Ketika Hanasy bertanya kepada Ali bin Abu Thalib yang sedang menyembelih dua ekor kibas, Ali mengatakan bahwa itu kurban untuk Rasulullah yang berwasiat sebelum wafatnya (HR Imam Abu Dawud). Hadist ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Tarmizi.

Tapi Hadis ini tergolong lemah (dhaif), karena sanadnya yang bernama Syarik dan Abu al-Hasna adalah orang yang tidak dikenal.

Dan kata Imam Ibnu Hibban, Hanasy itu juga lemah ingatannya, maka Hadis-nya tidak bisa dipercaya (Syaikh Amin Mahmud Khattab: Fath al-Malik al-Mabud:3/7). Maka, Hadis ini tidak bisa dijadikan dalil kebolehan membuat ibadah kurban bagi orang yang meninggal.

Namun, ulama sepakat mengatakan kebolehan membuat kurban bagi mayat yang ada berwasiat untuk itu. Tapi, mazhab Syafii tidak membolehkan membuat kurban bagi orang meninggal yang tidak ada berwasiat untuk itu (al-Musuah al-Fiqhiyah:5/106).

Walaupun begitu, pernyataan Rasulullah yang memasukkan semua umatnya dalam satu hewan kurbannya itu memberikan isyarat kebolehan membuat kurban bagi orang yang telah meninggal. Karena, pada waktu Rasulullah mengucapkan itu, ada juga umatnya yang telah meninggal dunia. Itu artinya boleh dibuat kurban bagi orang yang meninggal (Imam Syam al-Haq Abadi: Aun al-Mabud:7/ 487).

Menjual kulit Kurban
Rasulullah minta tolong kepada Ali bin Abu Thalib menyembelih hewan kurbannya sebanyak 100 ekor unta. Rasulullah perintahkan kepada Ali memberikan daging dan kulit kurban itu kepada orang miskin. Dan Ali juga dilarang menjadikan bagian dari hewan kurban itu sebagai upah bagi penyembelih (HR. Imam al-Bukhari-Muslim).

Mayoritas ulama menjadikan Hadis ini sebagai dalil larangan bagi orang yang berkurban itu menjual daging dan kulit kurban. Dan juga tidak boleh kulit kurban itu dijadikan sebagai upah bagi penyembelih hewan kurban (Imam al-Nawawi: Kitab al-Majmu:8/398).  

Larangan menjual kulit kurban itu diperkuat lagi dengan hadis Qatadah bin al-Numan, bahwa Rasulullah membolehkan orang yang berkurban memakan daging kurban. Tapi Rasulullah melarang menjual kulitnya (HR Imam Ahmad). Syaikh Hamzah Ahmad al-Zain mengatakan hadis ini derajatnya hasan, tidak lemah (Imam Ahmad: al-Musnad:12/493).  

Larangan menjual kulit kurban bagi orang yang berkurban itu diperkuat lagi dengan hadis Abu Hurairah dari Abdullah bin Iyasy al-Mashri, Rasulullah menegaskan bahwa orang yang menjual kulit kurbannya, maka tiada lagi pahala ibadah kurbannya.

Walaupun menurut penilaian Imam Abu Dawud bahwa Abdullah bin Iyasy itu perawi lemah, tapi Imam al-Hakim mengatakan hadis ini sahih (al-Mustadrak:2/495). Dan Imam al-Baihaqi juga menyebutkan hadis ini dalam kitab Marifah al-Sunan Wa al-Atsar (14/60), dan dalam kitab al-Sunan al-Kubra (9/294).

Namun begitu, satu riwayat mengatakan bahwa Imam Hanafi membolehkan orang yang berkurban menjual kulit hewan kurban dengan cara menukarnya dengan barang lain, bukan ditukar dengan uang, agar tidak nampak makna menjual (Imam al-Shanni: Subul al-Salam: 4/329).

Tapi, pendapat mazhab Hanafi itu bertentangan dengan hadis yang melarang orang yang berkurban menjual kulit hewan kurbannya. Karena, penukaran kulit kurban dengan cara barter itu juga termasuk dalam kategori perdagangan (jual beli).

Jelas, larangan itu hanya ditujukan kepada orang yang berkurban. Dan orang yang menerima pemberian daging atau kulit kurban tidak dilarang menjualnya.

Panitia Kurban
Pada masa dahulu, penyembelihan hewan kurban dilakukan secara individu, tanpa ada masjid membentuk panitia kurban. Al-Barra bin Azib mengatakan, setelah selesai melaksanakan salat Idul Adha, mereka pulang ke rumah, lalu memotong hewan kurban (HR Bukhari dan Muslim).  

Sekarang, untuk membantu dan menyadarkan umat melaksanakan ibadah kurban, maka berbagai masjid bersedia membentuk panitia kurban. Dan kedudukan panitia kurban itu hanya sebagai wakil dari orang yang berkurban.  

Solusinya, para anggota kurban memberikan (sedekah) semua kulit kurban itu kepada pihak panitia. Maka, kulit kurban itu menjadi milik panitia, lalu boleh saja panitia menjualnya untuk kepentingan mereka. Wallahu alam.***      

Syamsuddin Muir, Dosen UIR dan Wakil Ketua Tanfiziyah  PWNU Riau
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: