Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Muhammad Syafi’i

Mengkritisi Hubungan Industri-Lingkungan

12 Februari 2013 - 09.49 WIB > Dibaca 1416 kali | Komentar
 
Berawal pada periode antara 1750-1850 terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia yang disebut revolusi industri.

Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.

Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan  rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya

Bagaimana Industri di Indonesia?
Pertumbuhan industri di Indonesia sangat pesat dan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa pertumbuhan industri itu membawa perubahan kepada masyarakat di sekitar industri.

Industri membawa perubahan-perubahan pada masyarakat baik itu bersifat positif maupun negatif bagi orang orang yang berada di sekitarnya.

Prioritas pertumbuhan ekonomi mempunyai dampak yang sangat besar pada budaya sosial yang ada. Ditambah dengan makin pesatnya peralihan teknologi dari waktu ke waktu membuat terjadinya proses perjalanan budaya pada industri.

Manusia tercipta dari tumbuhnya industri tentunya akan merasakan perubahan dari kualitas manusia, terbentuknya budaya disiplin, budaya berinovasi, budaya bekerja keras dan banyak budaya lainnya akan lahir dalam nuansa pertumbuhan industri.

Hidup menjadi sebuah team work juga akan menjadi budaya sehingga dalam sebuah pengelolaan organisasi mencapai tujuan yang maksimal untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk meningkatnya kesejahteraan yang bersumber dengan pola keberhasilan industri yang ada.

Budaya masyarakat terkadang tergeser dengan masuknya industri di tengah-tengah masyarakat dan modal sosial masyarakat juga ikut mengalami perubahan gaya hidup, elemen-elemen modal sosial seperti jaringan, kepercayaan dan tindakan kolektif, kohesi sosial.  

Banyak pembelajaran yang terlahir dari adanya budaya industri. Pekerja yang merupakan salah satu objek berjalannya suatu industri akan terbentuk dari budaya-budaya yang ada di dalam sebuah industri.

Industri dan Lingkungan
Permasalahan yang terjadi pada perkembangan industri di Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir ini menunjukkan bergesernya cita-cita sejarah revolusi industri untuk meningkatkan kualitas ekonomi dan peradaban yang lebih maju yang telah berabad-abad lamanya, seperti pertikaian antara serikat pekerja dengan industri, maraknya sengketa lahan masyarakat tempatan dengan industri yang menandakan ketidakmauan lingkungan atas hadirnya atau majunya industri yang berkembang di suatu tempat.

Masalah dengan tidak terpenuhinya kesejahteraan pekerja dan perlindungan tenaga kerja yang belum terproteksikan dengan baik serta banyaknya kemiskinan dan kebodohan di sekitaran industri menyebabkan perselisihan berkepanjangan dalam majunya suatu industri.

Benang kusut ini menjadi hal yang penting harus diselesaikan. Karena negara maju akan didukung dengan berkembangnya industri di segala sektor.

Hal ini menjadi sesuatu yang bertolakbelakang dengan konsep sejarah revolusi industri tersebut. Selanjutnya siapakah yang harus dipersalahkan dengan keadaan ini.

Apakah penentu kebijakan dalam sebuah industri atau kurang pekanya pembuat kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk perizinan dan pengawasan.

Pertanyaan ini masih belum bisa dipecahkan karena masih banyaknya konflik-konflik yang ada di dunia industri.

Banyak industri yang maju telah berupaya memahami keadaan lingkungan dengan pengelolaan CSR merupakan sebuah konsep tanggung jawab sosial perusahaan kepada lingkungan.

Idealnya tidak akan terwujudnya peningkatan kesejahteran dengan semakin banyaknya industri yang tumbuh di Indonesia, tapi sebaliknya tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Konsep industri adalah organisasi pencari laba dan bukan person atau kumpulan orang seperti halnya dalam organisasi sosial. Industri telah membayar pajak kepada negara dan karena tanggung jawabnya untuk meningkatkan kesejahteraan publik telah diambil pemerintah haruslah dapat dipahami dengan menjadikan konsep bahwa industri tidak dapat dipisahkan dari para individu yang terlibat di dalamnya, yakni pemilik dan karyawannya, karenanya mereka tidak boleh hanya memikirkan keuntungan finansial bagi industrinya saja, melainkan pula harus memiliki kepekaan dan kepedulian publik.

Khususnya masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan.

Masyarakat adalah sumber dari segala sumber daya yang dimiliki dan direproduksi oleh industri. Masyarakat merupakan komponen yang ada di lingkungan.

Bukankah tanpa masyarakat perusahaan bukan saja tidak akan berarti, melainkan pula tidak akan berfungsi. Tanpa dukungan masyarakat, industri mustahil mempunyai sumber daya alam dan sumber daya manusia yang akan bermanfaat bagi industri.

Industri Seharusnya Arif
Dapat disimpulkan bahwa berdirinya industri mempunyai cita- cita yang sangat mulia dalam perkembangan zaman ini.

Peningkatan kekutan ekonomi bisnis dan terjadinya kesejahteraan serta kenyamanan di lingkungan industri ini merupakan konsep kearifan bagi industri.

Terjadinya keselarasan yang linier dengan bertumbuhnya industri dapat menekan angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan akan membantah pepatah” Seperti Ayam Mati di Lumbung Padi”.

Menjaga komunikasi yang baik antara industri dan pemerintah haruslah terjalin dengan baik. Budaya tolong menolong dan memahami konsep sosial lingkungan akan membuat industry menjadi arif pada lingkungannya.

Seperti sesuatu yang dapat memahami lingkungan, industri hendaklah menjadi panutan bagi perkembangan generasi ke depan.

Tak ubahnya seperti manusia jika industri yang mampu mengedepankan budaya-budaya sosial, pemberian/ amal, kedermawanan, relasi masyarakat dan pengembangan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi industri yang arif dan akan bijaksana dalam memutuskan sesuatu.

Meskipun industri telah membayar pajak kepada negara tidak berarti telah menghilangkan tanggung jawabnya terhadap kesejahteraan publik.

Di negara yang kurang memperhatikan kebijkan sosial atau kebijakan kesejahteraan (welfare policy) yang menjamin warganya dengan berbagai pelayanan dan jaminan sosial yang merata, manfaat pajak sering kali tidak sampai kepada masyarakat, terutama kelompok miskin dan rentan tidak memiliki posisi tawar yang kuat.

Istilah Triple Bottom Lines yaitu Profit, People dan Planet (3P) yaitu industri tetap harus berorientasi untuk mencari keuntungan ekonomi yang memungkinkan untuk terus beroperasi dan berkembang dan industri harus memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan manusia baik itu dicontohkan dengan pemberian beasiswa, pendirian sarana pendidikan, kesehatan dan pemanfaatan tenaga kerja lokal serta dengan kepedulian industri terhadap lingkungan hidup dan keberlanjutan keregaman hayati.

Selanjutnya niat yang baik ini haruslah bisa dikomunikasikan dengan baik antara indiustri dan pemerintah serta difasilitasi oleh organisasi perusahaan seperti Kamar Dagang Indonesia (Kadin) agar industri kita akan menjadi industri yang arif.***

Muhammad Syafi’i, Mahasiswa program doktoral Ilmu Lingkungan Unri

Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: