Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Sarwan Kelana

Membangun Generasi Qurani

26 April 2013 - 09.55 WIB > Dibaca 737 kali | Komentar
 
Pada masa Nabi, Alquran mendapat tantangan hebat dari Suku Quraisy dimana mereka menyatakan bahwa Alquran tak lebih sebagai buatan Nabi Muhammad SAW, sihir, dongeng, sekadar syair, mantra, modifikasi dan dukun. Semua itu dijawabkan Alquran dengan yakin dan Alquran menentang mereka  untuk membuaat satu surah saja yang semisal Alquran, tetapi mereka bergelimpangan tidak mampu untuk membuatnya.

Orang-orang Arab tidak mampu untuk merumuskan satu ungkapan atau satu kalimat yang dapat untuk menandingi ayat-ayat dalam Alquran, inilah mukjizat Alquran yang bisa membuaat lemah dan tak berdaya bagi siapa saja yang menentangnya.

Di sisi lain mukjizat Alquran tersebut semakin menumbuhkan keyakinan dan kesungguhan generasi muslim pada masa Nabi Muhammad SAW. Mereka menerimanya dari Nabi dengan senang hati, mencatatnya, membaca dengan seksama, menghafalnya dan berusaha sekuat daya untuk memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah generasi Muslim yang pertama langsung didik Nabi Muhammad secara Qur’ani dimana sejarah membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat imannya, tinggi mobilitas dakwahnya, berani melawan hegomoni pada masanya, dan yang paling penting tercatat dalam sejarah mereka adalah orang-orang yang selalu membenarkan apa yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW dan langsung meninggalkan pemaham yang selama ini mereka ketahui.

Prof Ali Yafie menggambarkan generasi muslim pertama ini sebagai, Angkatan Pertama umat Islam yang menerima secara langsung pelajaran dari Rasulullah dan di tempa oleh Rasul. Mereka ini merupakan para kader-kader inti, yang tadinya berada dalam pangkuan kebudayaan jahiliyah, lalu beralih kepada suatu kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dengan kehidupannya yang lama dalam lingkungan kebudayaan jahiliyah. Dengan sendirinya mereka sangat mengetahui lingkungan di mana ayat-ayat Alquran itu datang, Sehingga mereka dapat menghayati makna dan tujuan ayat-ayat itu.

Kejayaan peradaban Islam yang gemilang berawal dari Angkatan Pertama ini, yang diawali dengan melakukan perenungan terhadap Alquran, baik membaca, memaknai, hingga mengamalkannya. Bahkan dalam perjalanan sejarah, bangsa-bangsa yang bukan Arab saja juga mampu memahami Alquran. Jadi kendatipun Alquran turun dan ditulis dalam Bahasa Arab, mereka yang bukan orang Arab bisa memahaminya.

Tentu kita sangat tidak sepakat dengan JJG Jensen dalam tulisanya The Interpretation Of The Koran In Modern Egypt yang mengatakan bahwa Alquran adalah buku yang sangat sulit untuk dipelajari dari segi bahasa. Pendapat ini sangat bertentangan dengan Alquran, yang mengatakan bagi mereka yang mau berpikir, sungguh-sungguh, dan memiliki dedikasi tinggi mempelajari Alquran yang berbahasa Arab bukan lah suatu masalah. Sebagaimana firman-Nya; ” Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Alquran dengan Bahasa Arab agar kamu memahaminya”. (QS Yusuf:2)

Dalam bukunya Al-Naba’ Al-Adzim, Abdullah Darraz pernah menginspirasi pembaca, apabila Anda membaca Alquran, maknanya akan jelas di hadapan Anda. Tetapi, jika Anda mengulangi dalam membacanya maka Anda akan menemukan makna-makna lain yang berbeda dengan makna yang pernah Anda ketahui. Demikian seterusnya hingga Anda mendapati kembali kalimat atau kata-kata yang mempunyai bermacam-macam arti.

Sampai di sini kita dapat memahami bahwa Alquran itu hidup dan bergerak, ia bukan hanya sekumpulan kata-kata, dunia teks dan kalimat yang pasif dan sepi makna. Tapi Alquran  menanti pribadi-pribadi yang gemar mentadaburinya secara transformatif. Sedinamis gerak dan jangkauan Alquran yang tidak saja indah bagai puisi, tapi juga mengejawantahkan menjadi obat, penjelas, cahaya menerangi, berita baik dan peringatan dan tentu saja petunjuk.

Dalam konteks Alquran sebagai petunjuk, Prof A Qodri Aziz menyatakan, Alquran baru terbukti menjadi petunjuk ketika ada kenyataan dalam praktik. Alquran tidak cukup hanya untuk menjadi retorika politik, topik khutbah, tema pengajian, goresan pena, hiasan dinding, sekadar basa basi belaka. Karena itu, meskipun kita telah beriman dalam ucapan formalitas, namun jika kita tidak menjalankan petunjuk Allah dalam Alquran, maka akan menjadi isapan jempol saja bila berharap kita akan menjadi bangsa yang memperoleh kebaikan dan kemulian di dunia.

Oleh karena itu mari kita menggunakan Alquran sebagai petunjuk bagi rancangan, agenda dan perbaikan negeri yang kita cintai ini. Karena begitu banyaknya kasus-kasus di negeri dan provinsi ini masalah korupsi, hal ini dikarena kan Alquran sudah tidak digunakan lagi sebagai petunjuk.

Sebenarnya kalau secara teologis kita sebenarnya sudah memiliki formula untuk bangsa dan provinsi yang mulia ini. Kalau mau mulia yang pertama kali harus dilakukan adalah beriman dan bertakwa kepada Allah.

Dalam Alquran juga dijelaskan bahwa mereka yang bertakwa kelak di akhirat akan memenuhi taman-taman surga dan berada di mata air-mata air surga. Hamba yang mulia dan masuk surga itu adalah; Pertama, mereka yang selalu menjadi agen kebaikan dan perbaikan bagi sesama. Apabila khilaf dan berbuat salah, mereka kembali memperbaiki diri. Kedua, hamba yang mulia bertakwa dan masuk surga adalah mereka yang menghabiskan malam dengan beribadah hanya kepada Allah dengan khusyuk.

Ketiga, hamba yang mulia bertakwa dan masuk surga itu adalah orang-orang yang terlebih dahulu memuliakan mereka yang menderita dengan memberi sedekah, baik sedekah wajib maupun sunah.

Hanya saja, bila kita lebih teliti dalam mentadaburi Alquran ternyata kita tidak hanya diminta beriman dan bertakwa saja, tetapi harus melengkapi diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun peradaban.

Sekadar mengajak kembali untuk mentadaburi Alquran, inilah terjemahan ayat 33 Surah Al-rahan “Hai jamaah jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan ilmu pengetahuan”.  Karena itu Alquran secara faktual dan fleksibel dalam merespon setiap perubahan. Mengenai hal ini, mudah-mudahan jawabannya akan kita temui dalam perjalanan panjang tadabur Alquran yang kita lakukan. Semoga ***


Sarwan Kelana
Pendiri Komunitas Pena Kelana Riau
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: