Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Syamsuddin Muir

Salat Sunat Sebelum Salat Jumat

20 April 2012 - 09.16 WIB > Dibaca 561 kali | Komentar
 
Bersikap toleran dalam menyikapi beda pendapat merupakan dasar utama dakwah Islam menyatukan umat.

Tapi, memaksakan jamaah kepada satu pendapat, tanpa memberikan ruang kepada pendapat lain, itu merupakan dakwah pemecah persatuan umat.

Misalnya, sebagian umat Islam bingung mendengar keterangan sebagian pendakwah yang menolak azan Jumat dua kali, dan menghukum bidah ibadah salat sunat sebelum salat Jumat.      

Azan Jumat
Pada awalnya, azan salat Jumat itu dilakukan setelah khatib naik mimbar. Ini yang berlaku pada masa Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Tapi, karena umat Islam makin ramai, maka Usman bin Affan menambah azan kedua, dan dikumandangkan sebelum khatib naik mimbar (HR. al-Bukhari).

Pada saat Khalifah Usman membuat azan tambahan itu, para sahabat Nabi menyetujuinya. Diantaranya Ali bin Abu Thalib, Abd al-Rahman bin Auf, al-Zubair bin al-Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan lainnya. Ini merupakan kesepakatan (ijma) para sahabat yang juga merupakan sumber dalil dalam syariat Islam. Dan Rasulullah SAW juga memerintahkan umatnya mengikut sunnahnya dan sunnah al-khulafa al-Rasyidun (HR. Abu Dawud).

Bahkan, Imam al-Zuhri meriwayatkan dari Imam Ibnu al-Musayyab, diantara maksud Khalifah Usman menambah azan itu agar umat bisa bersiap-siap melaksanakan salat Jumat (Ibnu Rajab al-Hanbali: Fath al-Bari:9/217).

Namun, Syaikh al-Albani mengajak umat mengikut sunnah Rasulullah SAW saja, yaitu sekali azan. Dan beliau mengutip sikap Imam Syafii yang lebih menyukai azan Jumat satu kali (Nashiruddin al-Albani: Masjid al-Jamiah).  

Memang, Imam al-Syafii lebih menyukai satu kali azan. Lalu beliau menyebutkan pemikiran Imam Atha bahwa azan Jumat tambahan itu dibuat oleh Muawiyah, bukan Khalifah Usman (Imam al-Syafii: al-Umm:2/389).

Kelihatannya, sikap Imam al-Syafii itu disebabkan adanya keraguan beliau yang ditimbulkan oleh pendapat Imam Atha. Tapi, keraguan Imam Atha itu terbantahkan dengan hadis sahih riwayat Imam al-Bukhari, al-Nasai, al-Tirmizi, Ibnu Majah, dan Imam Abu Dawud yang menyatakan penambahan azan Jumat itu dilakukan Khalifah Usman, bukan Muawiyah.

Makanya, masjid di berbagai belahan dunia Islam Sunni (ahlussunnah), selain kaum Syiah, mengumandangkan dua kali azan Jumat. Begitu juga yang diterapkan d Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi.

Namun begitu, azan Jumat tiga kali berturut-turut dikumandangkan setelah khatib naik mimbar, sebagaimana yang dilakukan di Maroko itu tidak ada dasar hukumnya, dan bertentangan dengan berbagai hadis sahih yang tertulis dalam kitab hadis. Dasar tiga azan itu hanya riwayat dari Abdul Malik bin Habib yang merupakan perawi lemah, dan bahkan sebagian ulama hadis menuduhnya seorang pendusta (Abdullah al-Ghumari: Itqan al-Shanah).

Salat Sunat sebelum Jumat
Imam al-Bukhari membuat bab khusus tentang salat setelah Jumat dan sebelumnya. Lalu beliau menyebutkan hadis Ibnu Umar, Rasulullah SAW salat dua rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya. Ini bermakna, salat Jumat itu sama dengan salat zuhur, ada salat sunat sebelumnya (qabliyah) dan setelahnya (ba'diyah).

Pendapat Imam al-Bukhari ini dikuatkan lagi dengan hadis Ibnu Umar yang melaksanakan salat sebelum Jumat, dan beliau juga mengerjakan salat dua rakaat setelah Jumat. Lalu Ibnu Umar mengatakan, Rasulullah SAW melakukan itu (HR. Abu Dawud).

Imam al-Nawawi juga berpegang dengan hadis ini sebagai dasar salat sunat sebelum Jumat. Dalil terkuat sebagai dasar salat sunat sebelum Jumat itu adalah hadis sahih Ibnu Hibban bahwa setiap salat wajib itu ada salat sunat sebelum dan setelahnya (Ibnu Hajar al-Asqalani: Fath al-Bari:2/494).

Tapi, Imam Ibnu Qayyim menegaskan tidak ada salat sunat sebelum salat Jumat. Dan maksud Imam al-Bukhari itu hanya memastikan yang ada itu hanya salat sunat setelah Jumat saja (Ibnu Qayyim al-Jauziyah: Zad al-Maad:1/418). Pendapat ini juga merupakan fatwa resmi ulama Arab Saudi (Fatawa al-Lajnah al-Daimah:8/261).

Dalam Sunan Imam Ibnu Majah, tersebut bahwa Sulaik al-Athafani datang salat Jumat ketika Rasulullah SAW sedang khutbah. Rasulullah SAW bertanya, apakah Anda sudah mengerjakan salat dua rakaat sebelum Anda datang? Sulaik mengaku belum mengerjakannya, lalu Rasulullah SAW menyuruhnya melaksanakan salat dua rakaat (Imam al-Sind: Sunan Ibnu Majah:2/22).

Pertanyaan Rasulullah SAW ini menunjukkan, salat yang dimaksud itu adalah salat sunat sebelum Jumat, bukan salat sunat tahiyah al-masjid. Karena, tahiyah al-masjid hanya dikerjakan di masjid, bukan di rumah (Abd al-Rahman al-Mubarakfuri: Tuhfah al-Ahwazi:3/57).

Namun, Syaikh al-Albani mengatakan, hadis Ibnu Majah itu sahih, tapi perkataan Rasulullah SAW, sebelum Anda datang itu adalah syaz (janggal, tidak sah).

Pendapat Syaikh al-Albani ini tidak bisa diterima, karena perkataan itu adalah sahih dan tidak ada perubahan kalimat. Dan kitab Sunan Ibnu Majah dari berbagai versi tahkik ulama menulis kalimat itu, serta sesuai dengan hapalan para ulama hadis. Dan Imam al-Hafiz al-Iraqi menegaskan keberadaan kalimat itu (Mamduh Said Mamduh: al-Tarif:4/154).

Para ulama hadis mengakui keberadaan salat sunat sebelum Jumat dan setelahnya, dan mereka membuat bab khusus membahas masalah itu. Sebagaimana dilakukan oleh Imam al-Hafiz Abd al-Razzaq dalam kitabnya, al-Mushannaf.

Begitu juga yang dilakukan oleh Imam Ibnu Abu Syaibah dalam kitabnya, al-Mushannaf. Dan  Imam al-Tirmizi juga melakukan hal yang sama, sebagaiman dalam kitab Sunannya. Bahkan, mayoritas ulama mengatakan salat sunat sebelum Jumat itu adalah salat sunat rawatib, sama dengan salat sunat sebelum zuhur. (Ibnu Rajab: Fath al-Bari:9/333). Wallahu alam. ***

Syamsuddin Muir, Wakil Ketua Tanfiziyah PWNU Riau Pembina Kelas Kajian Kitab Kuning (K4) PWNU Riau
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: