21 April 2014 - 14.06 wib
Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Sugiarti

Memetik Buah Sejarah 21 April

21 April 2012 - 09.47 WIB > Dibaca 828 kali | Komentar
 
Setiap tanggal 21 April para perempuan Indonesia seolah tak pernah alpa dalam memperingati sebuah hari yang dianggap sebagai simbol kebangkitan kau perempuan Indonesia, itulah yang dikenal dengan hari Kartini.

Hari Kartini sendiri resmi dilekatkan sebagai bagian dari sejarah bangsa Indonesia setelah Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan pandangan para kalangan sejarawan itu sendiri dalam memandang sosok Kartini. Ada yang menganggap bahwa penokohan Kartini hanya merupakan akal-akalan J H Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia-Belanda pada masa itu.

Sebab Abendon dipastikan memiliki kepentingan politik etis dalam upaya mencegah keinginan Kartini yang ingin belajar melanjutkan studinya ke Belanda.

Banyak pula yang menganggap bahwa penobatan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional adalah hal yan tak logis.  

Sebab Kartini mengembangkan pemikirannya hanya pada ruang lingkup Jepara dan Rembang saja, ia juga tak pernah memikul senjata melawan penjajah seperti apa yang dilakukan oleh para pahlwan wanita lainnya.

Oleh sebab itu terlalu diskriminatif jika Kartini dianggap sebagai pahlawan nasional hingga ditetapkan hari untuk memperingatinya.

Kenapa tak ada peringatan hari Cut Nyak Dien atau Cut Nyak Mutia? Padahal mereka memiliki perjuangan yang lebih konkrit ketimbang apa yang dilakukan oleh Kartini. Inilah beberapa hal yang menjadi kontroversi terkait peringatan hari Kartini.

Lantas apa sikap kita menyikap berbagai bentuk pro kontra tentang penokohan seorang Kartini? Hal yang paling konkrit dan efektif dalam memandang hal ini tentu saja dengan menyerap manfaat-manfaat besar dari sebuah ‘’ketetapan’’ sejarah yang dimiliki penguasa. Memperdebatkannya akan membuang energi, meluruskan fakta akan menjadi perkara panjang yang tak kunjung usai.

Oleh sebab itu lebih penting bagi kita menjadikan momen Kartini sebagai sebuah langkah memulai ruang kehidupan perempuan muda Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.

Terkait hal tersebut, berikut ini beberapa buah manfaat yang dapat kita petik dari peringatan hari Kartini yang dirayakan setiap tahunnya;

Pertama, tuntutan kiprah kaum perempuan di dunia pendidikan. Indonesia hari ini secara fisik adalah bangsa yang merdeka, terbebas dari penjajahan fisik.

Oleh sebab itu tak ada alasan bagi kaum perempuan untuk diam dan bersantai-santai memicingkan mata terhadap kondisi pendidikan bangsa ini.

Seperti apa yang direkam sejarah, sikap Kartini yang begitu ngotot meminta kepada suaminya untuk mendirikan sebuah sekolah Kartini khusus kaum perempuan pada masa itu.

Dan akhirnya berdirilah beberapa sekolah perempuan yang didirikan oleh Yayasan Kartini diantaranya di daerah Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.

Kaum perempuan muda Indonesia saat ini pun memiliki tuntutan peran yang sama. Perempuan menjadi salah satu konstituen penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan tanah air.

Lihatlah jumlah kaum perempuan Indonesia yang begitu besar. Apabila kaum perempuan itu sendiri tidak kreatif memikirkan kualitas pendidikannya, maka bisa dimaklumi kondisi pendidikan Indonesia selamanya tak akan berubah ke arah yang lebih baik.

Kedua, mengasah tradisi intelektualitas kaum perempuan perihal baca tulis. Habis Gelap Terbitlah Terang merupakan sebuah buku berisi kumpulan surat-surat Kartini sebagai hasil korespondennya dengan beberapa rekan sahabatnya di Eropa.

Dalam surat-suratnya Kartini menuliskan pemikiran dan ide-idenya menyangkut kebebasan kaum perempuan di masanya.

Tak hanya menulis, munculnya kritik-kritik Kartini terhadap kondisi kaum perempuan pada masa itu disebabkan tradisi baca Kartini yang cukup baik.

Pada usia 20 tahun, sosok Kartini telah menyelesaikan pembacaan buku-buku diantaranya terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali.

Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden, karya Augusta de Witt, Roman-Feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata).

Tradisi intelektualitas inilah yang perlu dipanuti oleh para perempuan muda Indonesia. Membaca dan menulis merupakan sebuah langkah awal seorang individu menuju ruang kehidupan yang lebih bermartabat di mata orang lain.

Intelektualitas diri kita akan berbanding lurus dengan sikap penghargaan orang-orang di sekitar kita. Terlebih lagi bagi kaum perempuan, intelektualitas yang dimilikinya menjadi salah satu sumber perbaikan harkat dan martabat disamping akhlak dan prilaku.

Ketiga, membangun sikap kritis dan solutif. Sikap kritis dan solutif merupakan sebuah pasangan prilaku yang harus seiring. Rusaknya bangsa kita karena para pengkritik lebih besar dari para pemberi solusi.

Oleh sebab itu kedua hal tersebut harus berjalan secara seiringan. Berani berkomentar harus berani memberikan alternatif solusi jalan keluar. Kartini mengkritik kondisi kaum perempuan pada masanya, ia pun lantas memberikan solusi dengan mendirikan sekolah khusus untuk kaum perempuan.

Budaya kritik memang sangat penting diimbangi dengan usaha-usaha solutif. Sebab berbicara dan berkomentar terlalu mudah dibanding dengan sikap aksi di lapangan dalam menyelesaikan persoalan.

Inilah tiga hal penting yang dapat kita petik dari momen peringatan hari Kartini. Tak hanya kaum perempuan yang harus mengambil hikmah dari perayaan hari Kartini, namun semua kalangan bangsa Indonesia.

Sebab sejarah diciptakan untuk seluruh rakyat Indonesia, bukan sebagian kalangan saja. Membangun tradisi intelektual, berperan dalam dunia pendidikan dan terus membangun budaya kritik-solutif akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju dan bermartabat. ***

Sugiarti Penulis Perempuan Riau
KOMENTAR