Depan >> Opini >> Opini >>

Oleh: Erlina

Pendidikan Lingkungan Hidup dan Kebangsaan

15 Mai 2012 - 07.56 WIB > Dibaca 761 kali | Komentar
 
Hubungan manusia dengan lingkungan hidup yang mengitarinya, bersifat saling mengisi dan saling memperkaya.

Sumber-sumber kebijaksanaan yang kemudian dikemas menjadi pengaturan sosial manusia, baik lisan maupun tulisan, sebagian besar berasal dari perkakas-perkakas alam yang disediakan oleh lingkungan, yang menjadi habitat hidup manusia.

Pepatah yang berkata, bahwa ‘’lingkungan yang berkualitas lah yang akan melahirkan manusia yang bekualitas pula’’, seakan memperoleh tempat yang strategis dalam pembelajaran segi-segi lingkungan hidup sebagai ‘’ruang kehidupan’’ bersama, yang amat taktis dilaksanakan dalam upaya meningkat kesadaran ekologi, sekaligus keinsyafan ekologis, yang kemudian berdampak pada rasa kebangsaan dan pertahanan negara yang dimulai dari lembaga sekolah.

Pengaturan sosial yang kemudian disebut sebagai aturan yang tak tertulis atau konvensi, selalu bersandar dan mengeksplorasi kekayaan yang disediakan oleh lingkungan hidup yang terpelihara dan kaya.

Pengaturan sosial (social order) itu menjadi penanda, petunjuk dan penuntun dalam pergaulan hidup manusia yang dikemas dalam rasa seni yang tinggi, kemudian dia menjelma menjadi pantun, syair, petatah-petitih, talibun dan selaksa bentuk pengucapan lisan yang kaya dan tak terduga.

Bentuk-bentuk pengucapan itu, memperkaya akal budi, dan kehalusan mata fikir manusia dalam memperlaku makhluk hidup dalam sejumlah interaksi yang tak terduga pula.

Kecintaan siswa kepada makhluk hidup di luar makhluk manusia, bisa dimulai dari peristiwa menanam. Dari peristiwa menanam, terkandung bawaan yang melekat yang kemudian disebut sebagai fenomena ‘’penciptaan’’ yang menjadi domain Tuhan.

Namun, manusia yang kreatif akan diberi hak menyelenggarakan efek ilahiah dalam sejumlah ‘’penciptaan’’ melalui peristiwa menanam sebatang pohon atau menyemai benih tanaman.

Kesadaran akan efek ilahiah ini, sekaligus menambatkan rasa kasih dan sayang seorang anak manusia kepada calon makhluk berupa biji tanaman.

Bahwa seorang yang terlibat langsung dalam peristiwa menanam, tidak akan mudah memusnahkan apa-apa yang pernah ditanamnya. Sebab, secara substantif, dia memiliki sejarah dan ikatan emosi dengan makhluk yang ditanam tersebut.

Perihal ini, juga sekaligus ingin mencandra tentang kenyataan dan sejumlah kehilangan yang membuat kita alpa mengenai tumbuhan dan tanaman.

Bahwa Indonesia sebagai surga benua tropika, dia sama sekali tak terbantahkan. Namun, benua tropika ini, rupanya hanya diisi oleh kerimbunan tumbuhan, bukan tanaman.

Pohon-pohon kayu yang menjadi majelis besar mengenai aransemen kerimbunan itu, sejatinya adalah hasil dari penjumlahan tumbuhan, yang ditumbuhkan oleh Tuhan dan alam.

Dia bukan hasil tanaman manusia. Sebaliknya, jumlah tanaman di Indonesia amat kecil. Artinya, kesadaran manusia Indonesia, tentang pentingnya peristiwa menanam yang bermuara pada fenomena penciptaan itu, amat sangat rendah.

Sudah demikian banyak program ‘’Indonesia Menanam’’ yang digelar oleh pemerintah sejak dari pusat hingga kabupaten.

Namun, program itu hanya berupa program, yang tidak pernah diuji dalam sejumlah hasil dari penanaman tersebut: jumlah oksigen, CO2, penekanan emisi dan kepadatan karbon, sediaan air di wilayah tangkapan (catchment area) dan seterusnya.

Di sinilah penting dan signifikannya pendidikan lingkungan hidup dan kematangan warga, terutama kematangan mental dalam semangat nasionalisme.

Bahwa arti strategis dari peristiwa menanam, dan memelihara hutan sebagai satu rezim pertahanan negara, menjadi amat mutlak dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Bahwa kerimbungan ekologi hutan tropis di sepanjang garis perbatasan, sebagai wilayah stilasi (pemurnian) sumber air, dia sekaligus berfungsi sebagai elemen vital dalam strategi pertahanan negara (national defence).

Hutan yang rimbun, dia bisa dialih fungsikan sebagai benteng pertahanan, kubu tempat tentara kita berlindung ketika pecah konflik fisik dengan negara tetangga atau invansi dari luar.

Jika dibuat semacam simulasi, pecah perang fisik antara Indonesia versus Malaysia, bisa saja kita mengklaim kemenanga di tangan kita. Tapi, perlu diketahui, bahwa sediaan logistik militer Malaysia telah dipersiapkan untuk perang selama dua atau tiga tahun.

Sementara sediaan logistik militer kita hanya mampu bertahan untuk perang selama enam bulan.

Bila hal ini terjadi, maka peran hutan tropis yang rimbun di sepanjang perbatasan akan berubah fungsi sebagai sumber logistik tambahan bagi militer kita.

Buah-buah hutan yang sedap, ranum, sumber kalori dari sumber hutan termasuk sumber-sumber sikrosa yang menjadi sumber energi dan stamina tentara kita, akan mudah dipetik dan diambil dalam skala dan kadar yang tak berhingga, ketika hutan tropis di sepanjang perbatasan itu tetap merimbun dan dikuasai secara politik-administratif oleh negara.

Dengan demikian, kesadaran ekologis atau keinsyafan ekologis hutan tropis berkait erat dengan pertahanan negara, dalam taktik dan strategi militer.

Wacana-wacana mikro, seperti peristiwa menanam dan fenomena ‘’penciptaan’’ sebagai efek ilahiah itu, dan wacana makro dalam sistem pertahanan negara, sebagai bagian dari pembangunan watak kebangsaan kepada generasi muda, menjadi sesuatu pembelajaran yang mutlak diangsur di dalam sistem pendidikan kita.

Dia menjadi penting, karena lingkungan ekologi kita, adalah rumah bagi adat resam sebuah tambang kebudayaan.

Tambang kebudayaan yang menjadi penopang kebangsaan itu, tentu akan lebih kaya dan diperhitungkan ketika warga yang menjadi pendukung kebudayaan itu, memiliki hubungan harmoni dengan segala makhluk yang mengisi ‘’ruang bersama’’ (lebensraum) itu. Saatnya siswa-siswa kita, diarahkan pada kesadaran ekologis yang lebih kreatif dan inspiratif.***


Erlina Guru PKN SMA An Nur Pekanbaru
Ingin mengirimkan artikel Opini dan Surat Pembaca? Silakan klik di sini
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: