Riaupos.co

USTAZ ABDUL SOMAD
Nyanyikan Indonesia Raya di Tengah Belantara
2018-09-05 12:41:29 WIB
 
Nyanyikan Indonesia Raya di Tengah Belantara
 
RIAUPOS.CO - Belantara yang didatangi Ustaz Abdul Somad (UAS) ini terletak di Dusun Lemang, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gangsal, Indragiri Hulu (Inhu). Dia sejak jauh-jauh hari sudah mengkhususkan Kamis (30/8) dan Jumat (31/8) lalu tak diganggu agenda lain. Undangan berceramah oleh Kerajaan Perak (Malaysia) di tanggal tersebut pun ditolaknya.

Kedatangannya ini untuk melihat anak-anak Suku Talang Mamak di sana. Kunjungannya yang kelima sekaligus meresmikan Pondok Bustanul Hikam. Pesantren yang akan menjadi tempat sekolah bagi 18 orang anak-anak tamatan SD di dusun-dusun di Desa Rantau Langsat yang sebagiannya anak asal Talang Mamak.

Riau Pos dapat kesempatan langka bisa melihat dari dekat aktivitas UAS selama di sana. Meski tak diundang, Riau Pos datang dengan inisiatif sendiri dan terlebih dahulu berkoordinasi dengan Yayasan Muara. Organisasi yang mengelola Pondok Lemang, nama lain Pesantren Bustanul Hikam. Di Dusun Lemang, UAS menginap di Camping Ground (areal perkemahan) Lemang di hutan penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). 

Sejak Kamis siang, enam tenda dome berwarna oranye yang bisa memuat dua orang sudah disusun sejajar. Tepat di depan pendopo yang terbuat dari kayu. Pada dua sisi kiri dan kanan, empat tenda pleton berwarna biru muda juga didirikan. Susunan tenda serupa huruf U di areal perkemahan tersebut menyisakan sebidang tanah di tengahnya.

UAS tiba di lokasi Kamis malam sekitar pukul 20.00 WIB menggunakan iring-iringan mobil. Dalam rombongannya tampak perwakilan beberapa organisasi yang memang ikut memberikan bantuan pada sekolah dan anak-anak Talang Mamak binaan UAS. Sejak tiba hingga pukul 21.00 WIB malam, UAS memberikan tausiah pada tetua dan warga desa sekaligus meresmikan Pondok Lemang, setelahnya dia berjalan kaki dari pondok ke camping ground yang berjarak sekitar 100 meter.

UAS tiba ke Desa Rantau Langsat dengan penampilan sederhana yang memang menjadi ciri khasnya. Dia mengenakan baju koko putih, peci hitam dan celana katun hitam pula. Di camping ground, untuk UAS sudah disiapkan satu dari enam tenda dome yang sudah berdiri. Tenda UAS berada tepat di tengah.

Begitu tiba di camping ground, UAS bersama rombongan seperti politisi Partai Amanat Nasional (PAN) T Zulmizan F Assagaff, politisi Partai Gerindra Miftah Sabri, pengurus dan jamaah Masjid An-Nur, serta beberapa orang lain berbincang sejenak di depan tenda sambil berdiri. Kesan yang terlihat melekat pada UAS adalah dia orang yang banyak mendengar. Dalam obrolan yang terjadi pun dia hanya menimpali sesekali jika betul-betul diperlukan.

UAS juga bukanlah tipe orang yang ingin dilayani. Ini terlihat dari posisi obrolan yang berpindah dari berdiri ke duduk setelah pengurus Yayasan Muara membawakan tikar dan mempersilakan rombongan duduk, bukan karena dia yang meminta. UAS untuk tidurnya di camping ground tak mau diperlakukan berbeda. Meski dia sudah tenar seantero nusantara dan sudah memberikan ceramah di tempat-tempat prestisius seperti Mabes TNI AD dan Gedung MPR, alas kasur yang ingin dimasukkan panitia kegiatan ke dalam tenda ditarik lagi karena dia menolak. ’’Tak usah (diberi kasur, red), pakai tikar saja,’’ katanya.


Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB saat salah satu panitia menyela obrolan menyampaikan sudah waktunya UAS istirahat. UAS mengangguk tanda mengiyakan. Rombongan memaklumi dengan kemudian menarik diri ke tenda masing-masing. Rombongan dan orang-orang yang mendampingi UAS beristirahat hingga pukul 03.00 WIB.

Dini hari di sana, di bawah gelapnya malam dengan cuaca yang turun hujan rintik-rintik UAS keluar dari tendanya. Disusurinya jalan setapak menuju Sungai Gangsal yang bersisian dengan camping ground. Dibalas ramah sapaan orang yang berpapasan dengannya. UAS berbaur dan menunggu giliran mengambil wudhu di sungai dengan rombongan. Wudhu harus dilakukan bergantian karena menggunakan rakit yang ditambatkan ke darat. Rakit sesekali bergoyang saat orang yang berada di atasnya melangkah. UAS usai berwudhu memimpin Salat Tahajud berjamaah di pendopo camping ground di bawah rintik hujan yang turun semakin lebat. Setelahnya Salat Subuh dilaksanakan.

Jumat pagi beberapa aktivitas dilakukan di sana. UAS melayani wawancara dan pengambilan rekaman video. Pagi itu di lapangan camping ground, digelar upacara bendera. Hari kemerdekaan yang belum lewat dua pekan membuat suasana dan semangat peringatan 17 Agustusan masih terasa jelas.

Di tengah belantara itu, upacara peringatan HUT ke-73 RI dilaksanakan layaknya upacara di tempat lain. UAS berdiri sebagai inspektur upacara. Tiga orang penggerek bendera melaksanakan tugasnya menaikkan dan mengibarkan bendera di tiang yang terbuat dari kayu. Dalam posisi hormat, begitu bendera berkibar, peserta upacara termasuk UAS dengan lantang menyanyikan lagu Indonesia Raya.

UAS pada peserta upacara menekankan pentingnya cinta kepada negeri. Kepada tanah tumpah darah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tak ada seruan radikalisme di sana. ’’Di tengah krisis multi dimensi kita teriakkan allahu akbar dan merdeka. Kita tegakkan persatuan yang kuat sesuai cita-cita founding father pendiri negeri ini,’’ ucapnya.

Dia juga mengingatkan bahwa berbicara tentang kemerdekaan adalah bagian dari ajaran Islam. ’’Oleh karena itu bangsa Indonesia menyatakaan dengan rendah hati atas rahmat Allah dan keinginan luhur bangsa Indonesia. Dari SD kita diperdengarkan itu sampai hari ini,’’ tegas dia.

UAS dikenal sebagai seorang pendakwah, ulama dan dosen di masa mileneal. Menembus batas ruang, ceramahnya viral lewat berbagai platform media sosial. Ibu dan bapaknya Melayu Pelalawan dan Melayu Asahan.  Dia lahir di Kampung Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, suatu kawasan yang sempat menjadi bagian dari kerajaan Siak Sri Indrapura, Rabu 18 Mei 1977.

UAS yang pernah menolak tawaran menjadi calon wakil presiden ini, memang sudah diniatkan untuk menjadi ulama sejak kecil. Kakeknya adalah seorang ulama besar. Sejak kecil UAS dididik melalui madrasah yang berbasis Tahfiz Alquran. Dia mengenyam bangku SD di Al Washliyah tamat tahun 1990. Sekolah menengah di MTS Mu’alliminal -Washliyah Medan tamat 1993. Hijrah ke Riau, dia melanjutkan pendidikan di MAN Nurul Fatah Air Molek (Inhu) tamat 1996. UAS kuliah di UIN Sultan Syarif Kasim Pekanbaru selama dua tahun dan memperoleh beasiswa dari pemerintah Mesir. Dia adalah 1 dari 100 orang penerima beasiswa belajar di Universitas Al Azhar Kairo (Mesir) bersaing dengan 900 orang lainnya. Tahun 2004 dia kembali meraih beasiswa S 2 di Institut Dar al-Hadist al-Hasaniyah Kerajaan Maroko. Dia satu dari lima orang asing yang mendapatkan beasiswa di sana.


Pengabdian formal UAS tercatat sebagai dosen di UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Dia juga anggota MUI Riau di Komisi Pengkajian dan Keorganisasian periode 2009-2014, anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau komisi pengembangan periode 2009-2014. Sektretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau periode 2009-2014. Terbaru dia juga menjadi anggota Majelis Kerapatan Adat LAM Riau dan juga diberi gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara. Nama yang menurutnya mengandung makna pembelaan.

UAS sudah menulis beberapa buku. Di antaranya 37 masalah populer, 99 pertanyaan seputar salat, dan 33 tanya jawab seputar kurban. Selain karya sendiri, UAS menerjemahkan sejumlah buku dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Tausiah UAS disukai antara lain karena lengkap, beragam, moderat, dan kontekstual. Hal yang dilakukannya intinya adalah menjaga izzah dan ghirah Islam, kemuliaan, kehormatan, kekuatan Islam semangat kemelayuan melalui syiar Islam, dan sebaliknya memberikan semangat keislaman melalui kemelayuan.

Tenar karena ceramahnya disukai oleh banyak lapisan masyarakat, UAS tetap merasa wajib dan terpanggil untuk datang ke suku-suku tertinggal. Selain untuk syiar Islam, apa yang dilakukannya adalah bentuk peran yang diambil dalam bersumbangsih pada negeri. Hal ini tercermin dari kedatangannya ke Rantau Langsat tersebut. Orang-orang yang ikut dalam rombongannya adalah pihak yang ingin menyampaikan  bantuan secara langsung pada warga Desa Rantau Langsat dan suku Talang Mamak. UAS menghubungkan kedua pihak itu tanpa mengklaim bantuan itu dari dirinya.

UAS pertama kali datang ke Rantau Langsat menjelajah hingga ke dusun terjauh pada awal 2016. Awal kedatangan tak ada hingar bingar penyambutan. Berempat dia satu rombongan dalam gerakan tanpa nama kala itu. UAS datang setelah bertemu dengan Reza Fahlevi, mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Susqa yang menawarkannya berceramah di hutan. Kepada UAS dan jamaahnya di Masjid Raya An-Nur, diputarkan Reza video perjuangan Syafarudin alias Pak Tatung.

Warga Rantau Langsat yang sejak 2001 bertungkus lumus mengetuk pintu tiap rumah warga suku Talang Mamak mengajarkan anak-anak di sana membaca menulis dan berhitung. Perjuangan yang dimulai Pak Tatung karena melihat dengan mata kepala sendiri pembodohan terhadap orang Talang mamak di pasar 17 tahun silam.

UAS pada Riau Pos mengenang, tiga tahun lalu saat pertama tiba di sana warga desa tak memedulikan kedatangannya. Itu menyadarkan bahwa sebagai manusia dia bukan siapa-siapa.

’’Mereka ini saudara kita. Melayu bersyahadat tapi banyak ustaz yang tidak sampai ke mari. Tiga tahun yang lalu, itu mereka tidak peduli dengan kita, tidak ada respons.  Ya, kita manusia biasa ada juga bangkit ego kita, kenapa tidak disambut. Di situ kita baru sadar kita bukan siapa-siapa. Dulu kami pertama nunggu di masjid satu jam baru orang datang,’’ tuturnya.

UAS untuk mengakses dusun-dusun terpencil di sana mengungkap harus naik boat selama tujuh jam dan melanjutkan perjalanan selama satu hingga dua jam dengan berjalan kaki. Apa yang ditempuhnya ini, kata dia, belum seberapa dibanding perjuangan ulama-ulama yang datang ke nusantara membawa ajaran Islam. Belumlah juga sebanding dengan Pak Tatung yang harus tinggal di dusun-dusun tersebut demi mendidik anak-anak Talang Mamak.


’’Saat itu pula kita mengingat bagaimana ulama dulu  pertama datang dipukul ombak dihempas gelombang. Rasa-rasanya kita belum berbuat apa-apa. Andaikan dulu ulama tidak datang ke nusantara kita mungkin malah menyembah pokok kayu, menyembah batu. Hari ini kita alhamdulillah kawan-kawan datang,’’ terangnya.

UAS mengungkap banyak pertanyaan yang datang padanya kenapa dia tak datang meminta bantuan pada pemerintah untuk membantu sekolah dan pendidikan anak-anak Talang Mamak. Dia menyebut sudah pernah dan tidak mendapatkan respons yang cukup baik.

’’Saya pernah presentasi, bukan tidak pernah.  Saya sampaikan, Pak tempat duduk anak-anak ini diikat pakai rotan. Jarak tempuhnya jauh. Dari darat 5 jam sampai 7 jam, jalan kaki 2 jam. PNS kanlah guru itu. Kita macam main bola dibuat. Ini kewenangan sana, sana kewenangan sini. Saya orangnya cepat tobat, yang pertama dan terakhir,’’ ungkapnya.

Berdirinya Pondok Bustanul Hikam di Desa Rantau Langsat hadir sebagai penanda akan ada masa depan yang cerah bagi pendidikan di sana. UAS sudah memastikan kedatangannya kemarin merupakan yang terakhir, namun syiarnya ke desa dan suku terpencil tak akan berhenti. Sudah ada tempat lain yang akan dituju.

’’Sekarang mata kami sudah melirik yang lain, yang lebih menarik dari Talang Mamak. Apa itu, Durian Cacar. Mana yang lebih memerlukan, kita ke sana. Beberapa tempat cemburu. Ustaz ke sana enam bulan sekali, sedangkan ini Suku Akit, Sakai ustaz belum pernah tengok. Karena itu kita berbagi,’’ sambungnya.

Format pendampingan yang sudah diterapkan di Rantau Langsat bagi Suku Talang Mamak nantinya akan dibawa ke daerah-daerah lain. Dia menekankan pentingnya pendampingan terus-menerus oleh pemuda yang memiliki totalitas dan diterima masyarakat setempat. Pendidikan dan pemahaman agama penting untuk bisa terus diberikan pada masyarakat terpencil, kata UAS, karena sudah terlalu lama mereka hidup dalam kegelapan tanpa ilmu pengetahuan.

Apa yang dilakukan UAS di Desa Rantau Langsat membekas dalam ingatan masyarakat. UAS pembawa suluh yang mencerahkan dan memberikan jalan.

’’Dulu kami tidak sambut hangat beliau, kami biasa saja tidak acuh. Masyarakat hanya memandang dari mana ini. Sekarang masyarakat merasa melihat orang yang sudah memberi jalan dan menasihati. Dampaknya masyarakat senang,’’ kata M Nasir, mantan Kepala Desa Rantau Langsat tahun 2007 hingga 2013.***

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=188763&kat=12

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi