Riaupos.co

Setya Novanto Tahu Proyek PLTU Riau 1
2018-08-28 17:29:42 WIB
 
 Setya Novanto Tahu Proyek PLTU Riau 1
 
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Dugaan keterlibatan mantan Ketua DPR Setya Novanto (Setnov) dalam kasus korupsi proyek PLTU Riau 1 coba diurai oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Senin (27/8), KPK memeriksa Setnov sebagai saksi untuk tersangka Johannes B Kotjo. Setnov diduga mengetahui proyek kakap senilai 900 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp12,6 triliun itu.

Sebelumnya, dari informasi yang diperoleh Jawa Pos (JPG), Setnov diduga menerima aliran uang dari Kotjo. Uang itu ditengarai bagian dari bisnis “jualan pengaruh” untuk proyek yang digarap perusahaan Kotjo, Blackgold Natural Resources Ltd. Modusnya, perusahaan tersebut menjanjikan komitmen fee untuk ijon proyek. Setelah proyek didapat, barulah komitmen itu direalisasikan.

Modus semacam itu pernah dibongkar KPK saat mengusut perkara korupsi KTP-el. Dan, Setnov terbukti menjadi aktor di balik korupsi itu. Dia telah divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta. Mantan ketua umum Partai Golkar itu dihukum penjara 15 tahun dan denda Rp500 juta serta uang pengganti 7,3 juta dolar AS dikurangi Rp5 miliar. Hak politik Setnov juga dicabut selama 5 tahun setelah menjalani masa pidana.

Lalu apakah peran Setnov dalam perkara proyek PLTU Riau 1 sama dengan kontruksi KTP-el? Wakil Ketua KPK Laode M Syarif belum bisa menjelaskan secara detail sejauh mana peran Setnov dalam perkara PLTU berkapasitas 2x300 mw. Namun, dia memastikan penyidik telah mengantongi informasi bahwa Setnov memang mengetahui proyek listrik ini.

“Informasi awal yang didapatkan penyidik, Pak Setya Novanto dianggap mengetahui tentang proyek ini, cerita secara umumnya saja,” jelasnya di gedung KPK, kemarin.

Informasi itu diperoleh dari hasil gelar perkara yang dilakukan penyidik beberapa waktu lalu. “Oleh karena itu penyidik berkepentingan meminta keterangan dari yang bersangkutan (Setnov) agar lebih jelas,” jelasnya.

Laode mengakui, kasus ini memang digarap satuan tugas (satgas) yang terdiri dari penyidik-penyidik senior yang mumpuni. Namun, pihaknya tidak mau terlalu jauh membeda-bedakan kemampuan penyidik di KPK. Terutama terkait senioritas maupun pengalaman mereka menangani kasus-kasus kakap, seperti KTP-el. “Mau senior atau junior, mereka (semua, red) mumpuni,” ucapnya.


Seperti diberitakan, sejumlah penyidik senior dikerahkan dalam penanganan perkara kakap ini. Di antaranya Yudi Purnomo Harahap (ketua Wadah Pegawai KPK), Ambarita Damanik, Taufik Herdiansyah, hingga Novel Baswedan. Sebagian dari mereka merupakan penyidik kasus KTP-el yang menyeret Setnov sebagai tersangka.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menambahkan, ada dua kapasitas Setnov yang didalami terkait perkara proyek PLTU Riau 1. Yakni, sebagai ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar. Sebagai ketua umum, Setnov diduga mengetahui sejauh mana peran Idrus Marham yang ditetapkan tersangka dalam kasus ini. Idrus pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal sebelum menjadi menteri sosial.

“Penyidik saat ini lebih fokus pada apa yang diketahui saksi Setya Novanto terkait proyek PLTU Riau 1,” terangnya.

Pengetahuan yang digali dari Setnov itu bisa tentang proyek listrik secara umum hingga pertemuan-pertemuan antara Setnov dan para tersangka dalam kasus ini. Lalu bagaimana dengan keterlibatan pihak lain dan dugaan uang suap dari Kotjo yang mengalir ke Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar tahun lalu? Febri belum bisa berkomentar lebih jauh. Namun, dia memastikan pemeriksaan saksi bakal kembali dilanjutkan untuk memperjelas konstruksi perkara ini.

“Kami mulai memeriksa saksi-saksi untuk membuat lebih terang kasus ini,” paparnya.

KPK berencana memanggil anak Setnov, Rheza Herwindo, pada hari ini (28/8). Rheza akan diperiksa untuk tersangka Idrus terkait dengan kapasitasnya sebagai Komisaris PT Skydweller Indonesia Mandiri. Berdasar informasi yang dihimpun JPG, perusahaan itu berkantor di gedung Equity Tower lantai 22 unit B, C dan D SCBD Lot 9 kavling 52-53 Jalan Jenderal Sudirman Jakarta.

Merujuk pada fakta persidangan KTP-el, Setnov juga memiliki kantor di lantai 20 di gedung tersebut. Di kantor itu, Setnov beberapa kali bertemu dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong dan sejumlah rekanan proyek KTP-el di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun anggaran 2011-2012.

“Jadwal pemeriksaannya (Rheza Herwindo) besok (hari ini, red),” ujar Febri.

Sementara itu, Setnov kemarin menjalani pemeriksaan selama kurang lebih enam jam. Terpidana korupsi KTP-el itu tiba di gedung KPK pukul 09.00 WIB dan keluar dari ruang pemeriksaan pukul 15.00 WIB. Usai diperiksa, Setnov terus membantah pertanyaan awak media tentang keterlibatannya dalam proyek PLTU Riau 1. (tyo/bay/agm/jpg)



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=188440&kat=2

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi