Riaupos.co

KEMBAYAT
Anjing-Anjing Yang Menyerbu Dalam Mimpi
2018-05-27 11:54:56 WIB
 
Anjing-Anjing Yang Menyerbu Dalam Mimpi
 
Oleh:Khairul Umam

Dia taburkan butiran-butiran garam yang telah diberi doa barokah oleh Kiai Sa’duddin. Dia menaburnya perlahan mengikuti setiap lekuk garis pekarangannya. Senti demi senti, inci demi inci. Dia menaburnya secermat mungkin hingga tidak ada ruang yang tersisa tanpa butiran garam itu. Seperti yang telah dinasihatkan sebelum pulang, setiap menabur biji garam dia harus membayangkan anjing-anjing yang selalu mengganggu tidurnya. Dengan melafal bismillah sefasih mungkin, sambil butir-butir garam itu mengucur perlahan, diingatnya dengan lekat wajah anjing-anjing hitam itu. Ia tidak tampak seperti anjing biasa. Kepalanya bulat hapir menyerupai kepala manusia. Berwajah seperti manusia. Hampir saja dia mengingat wajah itu, namun ketika terbangun, wajah itu seperti menghilang begitu saja. Udara malam yang dingin telah membawanya raib dan entah bersembunyi di mana.

Sudah seminggu ini tidurnya tidak pernah pulas. Anjing-anjing itu selalu datang dan memburunya. Untungnya, hingga detik ini, anjing-anjing itu tidak pernah berhasil meraihnya. Entah sekadar menyentuh apa lagi menggigit. Namun, di tengah malam buta ketika suara kentongan terdengar merintih dan suara burung malam menyanyi perih, dia harus selalu terbangun dengan napas memburu dan dada bergemuruh.

Matanya!

Hanya satu hal yang sempat dan sangat dia ingat. Ya, matanya. Di antara bibir yang terus menganga dengan lidah menjulur-julur dan melelehkan air liur kental berbau busuk, dia sangat hapal terhadap matanya yang merah menyala. Seperti ada kobaran api yang mereka bawa. Mata itu begitu lebar hingga seperti hendak melesat menghunjam tubuhnya yang sudah basah oleh keringat. Di saat itulah dia selalu terbangun dengan setengah berteriak, dada bergemuruh, dan peluh memeluk tubuhnya yang tidak begitu besar.

Sejak kehadiran anjing-anjing yang tidak diundang itu, dia selalu merasa enggan untuk tidur malam. Istrinya hanya terdiam pasrah. Andai saja tidak karena kantuk yang datang menyerang dan membuatnya harus menyerah kepada kekuatannya maka dia lebih suka memilih tidur siang hari.

Sudah berbagai cara dia lakukan sebelum tidur. Bermacam bacaan dia rutinkan, berbagai wiridan dari beberapa kenalannya juga tidak luput dari perhatiannya. Namun, anjing-anjing itu seperti kebal dan masih saja menyalak dengan suara tidak biasa. Salak yang didengarnya tidak sama dengan salak anjing, bukan pula suara hewan-hewan lain yang pernah dia dengar. Salak-salak itu hampir seperti orang merintih namun juga menyerupai orang yang mengeram dendam. Ada aroma bangkai di balik salak-salak yang saling tindih itu. Namun, dia tetap tidak bisa menggambarkan dengan pasti.

“Anjing suruhan.”

Kiai Sa’duddin menatapnya tajam. Dia seperti sedang membaca tanda yang terdapat jauh di dasar sinar matanya yang temaram. Pandangan itu dirasakan seperti sedang mencari hal yang sama sekali tidak dia ketahui.

“Mereka datang untuk mencelakakan dirimu. Anjing-anjing itu jelmaan dari setan yang sengaja dikirim lewat mimpi-mimpi buruk itu.”

“Mengapa harus lewat mimpi, Kiai?”

“Saat manusia tertidur, seluruh pori-pori di tubuhnya mengembang dan menganga. Nah, saat itulah ilmu hitam yang sedang dikirimkan dengan mudah masuk lewat semua lubang yang sedang menganga tadi.”

“Hubungannya dengan mimpi?”

“Saat hendak masuk ke pori-pori ada penolakan dari khadam yang sedang menjaga tubuhmu. Maka terciptalah mimpi buruk seperti yang selalu kau alami.”

Dia kembali termenung. Memikirkan mimpi yang hampir setiap malam menderanya. Dan berakhir bangung dini hari dengan napas terengah dan dada gemuruh dengan peluh mengalir deras ke seluruh tubuh.

“Untung khadam yang ada dalam tubuhmu masih kuat dan kau masih selamat.”

Diam.

“Hati-hatilah. Selalu waspada. Jangan sampai anjing-anjing itu menggigitmu.”

“Saya sudah membaca banyak asma sebelum tidur, Kiai. Bahkan, wudu pun tak pernah lupa. Namun anjing-anjing itu selalu saja memburu dengan liur meneteskan lendir yang beraroma busuk.”

“Nah, khadam dari asma itulah yang sampai saat ini menyelamatkanmu dari serangan binatang jadi-jadian itu.”

“Apakah Kiai bisa menemukan siapa pelakunya?”

Kiai Sa’duddin tersenyum tipis hingga kumisnya yang tidak begitu tebal dan melintang terlihat mengembang dan bibirnya yang lebam oleh rokok terlihat memudar. Dia menekurkan kepalanya ke lantai beberapa lama dengan diiringin beberapa kali anggukan pelan.

“Maaf. Untuk menyebutkan sebuh nama saya tidak berani. Bisa jadi saya salah. Bisa jadi pula saya merusak kehidupan sosial yang ada. Bagaiamanapun, ilmu seperti ini tidak bisa dibuktikan.”


“Tapi Kiai,”

“Sudahlah. Berdoa kepada Tuhan. Saya juga akan membantu mendoakan keselamatanmu dan keluarga.”

Dia hanya diam. Menatap meminta kepastian kepada Kiai Sa’duddin. Kiai sepuh dengan karisatik yang tinggi itu kembali tersenyum  dan meninggalkannya sendiri di beranda. Kiai itu masuk ke dalam bilik yang terletak di samping beranda rumahnya. Pintunya dibuat terhubung ke beranda sehingga  dalam hitungan detik dia sudah menghilang di balik tirai yang menjuntai lemah.

Bilik itu tidak besar. Mungkin hanya cukup untuk satu orang dengan posisi tidur berselonjor. Sejak selesai dibuat, tidak seorang pun yang boleh memasuki ruangan itu. Tidak juga istri beliau. Dia menamai kamar itu dengan uzlah. Kamar yang hanya ditempati pada saat-saat tertentu dan tidak seorang pun boleh mengganggu. Di sana dia benar-benar uzlah hingga waktu yang diinginkannya.

*****

Sudah hampir sempurna. Tiga perempat dari batas-batas pekarangannya sudah tertaburi garam. Taburan itu membentuk garis putih melintang dan meliuk sesuai bentuk pekarangannya yang juga dipagari oleh beberapa pohon mangga dan jambu. Dia tersenyum puas sambil berharap malam-malam berikutnya anjing-anjing itu tidak lagi datang menyerang.

Meski tidak sekali pun anjing-anjing itu berhasil menyentuhnya, namun dia masih belum merasa lega sebelum mereka benar-benar berhenti menerornya. Dia ingin tidurnya nyenyak karena sudah sehari penuh harus bekerja. Tidak ada waktu untuk tidur siang meski sejenak. Ada saja yang harus dikerjakannya, meski hanya sekadar bersenda gurau dengan rekan-rekan sekantornya.

Maka, setelah beberapa waktu harus menunggu azimat yang dijanjikan, dia segera melaksanakan nasihat yang diberikan. Azimat itu dibuat khusus oleh Kiai Sa’duddin. Proses pembuatannya membutuhkan waktu agak lama. Hampir sehari penuh dia menunggu.

“Garam ini akan melindungi pekaraganmu dari serangan makhluk jahat apa pun itu. Taburlah segera.”

Dengan mata berbinar dia terus menaburkan garam itu. Dia harus menyelesaikannya sebelum matahari tenggelam dan adzan magrib berkumandang. Diingatnya kembali wajah anjing-anjing itu. Matanya merah menyala, ekornya bergerak-gerak seperti menciptakan lingkaran, lidahnya menjulur dengan liur berlendir. Dan tubuhnya yang penuh dengan kutu bergetar.

Kutu itu begitu jelas merayap menyusuri setiap inci dari tubuh anjing-anjing itu. Sesekali kutu-kutu juga ikut menatapnya garang, dengan antena digerak-gerakkan. Kutu-kutu itu tidak biasa, ia tumbuh begitu besar. Bertaring dan berlendir hingga bulu anjing-anjing itu basah dan menampakkan kulitnya yang penuh borok. Sepertinya mereka hendak melompat dan menggerayangi tubuhnya hingga benar-benar tidak berdaya. Untungnya mereka tidak punya sayap hingga hanya bisa menunggu dengan pasrah, dengan mata membara, anjing-anjing itu berhasil mengejar dan menggigitnya.

 *****

Malam ini, dia menatap kilatan butiran garam yang melingkar dan meliuk seperti ular raksasa. Ia begitu kilau tertimpa cahaya bulan yang masih mengintip malu-malu di antara celah dedahan pohon mangga dan jambu pembatas pekarangannya. Senyumnya terukir jelas di kedua bibirnya yang tipis. Wajahnya mulai bercahaya.


Pelan-pelan, setelah meniupkan ayat kursi dan salawat taisir yang dibaca seribu kali ke air kembang, dia melangkahkan kaki kirinya terlebih dahulu melewati pintu dan berjalan lurus hingga batas pekarangannya. Di sana dia siramkan air kebang tersebut hingga mulut jalan setapak menuju jalan raya.

Di mulut jalan itu, dia percikkan sisa air kembang dengan jari-jari tangan kanannya setelah terebih dahulu membaca ayat kursi dan salawat taisir tiga kali lalu diakhiri dengan doa sapu jagad. Dia percikkan perlahan sambil lalu membayangkan anjing-anjing itu secara utuh. Percikan pertama hingga percikan-percikan berikutnya, dia membayangkan anjing-anjing itu menggelepar-gelepar kepanasan, menggongngong kesakitan, dan merintih pedih. Di percikan terkahir, dengan senyum semakin mengembang, dia membayangkan anjing-anjing itu mati dan menghilang sebagai bangkai. Pada titik itu, jam di masjid berdentang sebelas kali.

Dia segera membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Merebahkan tubuhnya di atas kasur dipan. Di sampingnya istrinya telah menunggu dengan senyum menawan. Dia membalikkan badan. Memeluk istrinya sebelum tiba-tiba lampu kamarnya padam.



Gapura, Maret 2018



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=183446&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi