Riaupos.co

Ajang Teater Sumatera (ATS) III
Teater dan Obsesi Kekinian
2018-07-01 10:16:56 WIB
 
Teater dan Obsesi Kekinian
 
Tidak sedikit seniman yang berpikir dan bekerja keras membangkitkan spirit teater bagi kemaslahatan umat. Ada tidaknya bantuan secara finansial maupun moral dari siapa pun, insan teater terus saja berbuat dan berkarya. Untuk siapa? Entahlah...

--------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - PALING tidak, kenyataan itu lahir pada diskusi kreatif di helat Ajang Teater Sumatera (ATS) lll, Sabtu (30/6) di lobi Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru, Riau. Spirit berteater itu bak menyibak jendela untuk membuka gerbang wawasan peserta diskusi tersebut. Apalagi, pemilik ’kunci’ pembuka tingkap itu, Radhar Panca Dahana memang sengaja mengajak semua orang menyelami dirinya sendiri.

Budayawan dan Teaterawan Indonesia itu seperti seorang pekerja kebun yang sedang menggali ’tanah’ untuk menanam ’bunga’. Buktinya, sebagian besar insan teater yang hadir saling membuat mengakuan, seperti ’pengampunan dosa’.

"Apa yang kita lakukan bernilai dan lebih bernilai. Dirimu yang sesungguhnya takkan pernah selesai sama sekali ditemukan. Di sini, saya hanya ingin katakan bahwa kita harus tahu apa yang kita lakukan. Mampu memberi makna pada diri sendiri. Jika diri sendiri bisa dimaknai, secara otomatis berguna bagi orang lain dan bangsa ini," ulas Radhar yang berhasil ’menggoda’ (memancing/menggali pikiran) insan teater pada diskusi kreatif tersebut.

Musti tidak semua mampu memahami penjelasan itu secara mendalam, namun beberapa orang sangat terpengaruh dan mengakui semakin mencintai teater yang digelutinya selama bertahun-tahun. Bagi mereka, teater adalah sesuatu yang berguna. Lalu pertanyaannya, guna teater apa? Gunanya, untuk memahami diri sendiri, dan kondisi sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat hari ini.

Lalu, sejauh mana mereka memahami teater sebagai jalan kehidupan? Masing-masing saling pandang dan tak bersuara selain tersenyum atas ketidaktahuan mereka sendiri. Pada pembahasan itu, Radhar kembali memberikan  pemahaman, bahwa teater bisa menjadi profesi yang setara dengan dengan bidang lainnya. Maka ketika seseorang mendapatkan rezeki di jalan teater, maka yakinlah, ia akan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

"Ingat, rezeki bukan melulu soal uang. Tapi pertemanan, persahabatan, dan lainnya juga rezeki yang datang dariNya. Maka jangan pernah takut, bahwa teater akan ditinggalkan karena sebagian besar masyarakat menganggapnya berjarak dan tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan ini," katanya panjang lebar.


Sebagai penutup diskusi tersebut, Radhar mengajak semua insan teater untuk mendalami dan memahami makna teater yang sesungguhnya. Karena kerja kreatif yang dilakukan itu juga membentuk kepribadian seseorang dalam menjalani kehidupan itu sendiri. Apalagi, teater memang mengajarkan sensitivitas, improvisasi, mengasah otak, tubuh, terutama hati atau keyakinan diri.

Sebelumnya, Jumat (29/6) lalu juga hadir pembicara yang juga membahas tema menarik dari seni dan fenomena sosial. Adalah Afrizal Malna, sastrawan dan Teaterawan Indonesia itu mengangkat tema, Tradisi dan Pasca-Kebenaran. Sebagian besar peserta diskusi tertarik dan terlibat aktif dalam forum itu.

Bahkan mereka mengaku waktu yang tersedia sangat singkat sebab masih banyak hal yang bisa didalami bersama.

Keinginan Seniman
Dalam Ajang Teater Sumatera (ATS) lll yang berlangsung, 28-30 Juni, plus tambahan waktu 26-27 Juni dengan workshop Suzuki Method di Anjung Seni Idrus Tintin itu, tentu saja mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Riau, terutama Pekanbaru sekitarnya. Kenapa tidak, musti pelaksanaan acara di masa libur panjang sekolah dan kampus, tak kurang 400-500 orang hadir menyaksikan karya-karya yang disuguhkan para penyaji setiap malamnya.

Helat yang digagas Lembaga Teater Selembayung, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata Riau itu, telah menjadi titik tolak dalam melihat perkembangan dan kecendrungan teater Sumatera, juga Indonesia pada umumnya. Apalagi penyaji yang diundang tidak hanya berasal dari Sumatera, melainkan Jawa dan Kalimantan. Bahkan satu penyaji berasal dari Singapura yang menyuguhkan karya monolog.

Kabid Ekonomi Kreatif (Ekraf) Dinas Pariwisata Riau, Dandun Wibawa mengatakan, ATS yang sudah berlangsung tiga tahun berturut-turut itu, bukan lahir dari pemerintah, melainkan usulan dari para seniman teater itu sendiri. Dikatakannya, mengapa pemerintah, dalam hal ini Dinas Pariwisata Riau, memang menyaksikan langsung selama bertahun-tahun, insan teater bergerak sendiri dengan usaha dan biaya sendiri. Pemerintah bahkan nyaris luput atau absen sepanjang perjalanan tersebut.


“Terbukti, setiap komunitas yang menaja pementasan selalu ramai bahkan dengan menjual tiket masuk. Inilah mengapa kami sangat apresiasi pada usaha pantang menyerah mereka. Mudah-mudahan helat ini berkelanjutan hingga tahun-tahun kehadapan,” ujarnya.

Selain itu, saat membuka acara, Kamis (28/6) lalu, Dandun juga kembali menjelaskan bahwa mengapa masih mempertahankan nama helat itu dengan Sumatera, sedang pesertanya berasal dari luar pulau dan bahkan luar negeri, karena memang ingin mempertahankan, Sumatera menjadi pusat seni pertunjukan. Menjadi daerah kunjungan insan seni setiap tahunnya dan memberikan ruang seluas-luasnya bagi para seniman.

“Bukan tidak mungkin, Riau menjadi pintu gerbang pusat seni pertunjukan di Sumatera. Setiap daerah dan negara bisa hadir dan menyuguhkan karyanya di gedung Idrus Tintin yang megah ini,” katanya meyakinkan.***

Laporan KUNNI MASROHANTI, Pekanbaru


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=185354&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi