Riaupos.co

Bergerak demi Eksistensi
2018-07-08 12:13:58 WIB
 
Bergerak demi  Eksistensi
 
Geliat seni di Riau memperlihatkan kemajuan. Berbagai perhelatan digelar, baik oleh komunitas secara mandiri, maupun komunitas bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah, maupun swasta. Semuanya bergerak, menunjukkan eksistensi dan proses untuk mematenkan negeri ini sebagai pusat seni pertunjukan.
----------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - DUA tahun lalu, insan seni pertunjukan telah menyepakati Riau sebagai pusat seni pertunjukan di Sumatera. Bukan tanpa alasan, dan bukan pula sebagai jargon basa-basi. Selain negeri berjuluk Lancang Kuning ini memiliki pasilitas memadai, para insan seni, baik teater, tari, musik, juga sastra seperti berlomba-lomba menggelar karya-karya terbaik mereka.

Alasan utamanya tentu saja untuk menjaring kepercayaan masyarakat sebagai audiens utama. Masing-masing komunitas menggelar karya secara mandiri dan telah pula mendapat tempat dengan ramainya gedung-gedung pertunjukan saat karya mereka dibentangkan. Tidak hanya itu, masyarakat sebagai penonton bersedia pula membeli tiket untuk tontonan alternatif yang menyegarkan. Suasana yang terbangun sejak 2009 hingga kini, semakin menguatkan interaksi seniman dan masyarakat secara luas.

Selain itu, juga untuk memberikan contoh kepada pemerintah serta pihak swasta untuk bersedia --dengan sadar-- menyalurkan bantuan secara finansial. Kekuatan dan keuletan seniman telah menambah semaraknya dunia seni dan budaya di negeri ini.

Salah seorang seniman Riau, Iwan Irawan Permadi menjelaskan, awalnya geliat itu terus bergerak menuju kemajuan. Berbagai potensi dari berbagai komunitas otomatis terangkat ke permukaan. Baik teater, tari, musik, dan sastra.

"Spiritnya terasa membanggakan. Hanya saja, lambat laun, geliat itu bertahan di Kota Pekanbaru saja. Komunitas yang bergerak juga tak bertambah secara baik, meski satu persatu mulai tumbuh," ulas koreografer senior tersebut.


Dijelaskannya, kesenian tidak dipertahankan, tapi harus diperjuangkan. Selain itu, merawat seni tradisi harus dikembalikan pada komunitas penyanggahnya. Lebih jauh dikatakannya, gerakan kesenian di masih belum terlihat dan terasa bagi keberadaan kesenian di Riau secara keseluruhan, baru sebatas Kota Pekanbaru saja.

"Kita tentu mengharapkan, komunitas di Riau secara luas bertambah sehingga tidak seperti sebuah siklus yang cenderung pada pengulangan. Memang komunitas yang bergerak lumayan jumlahnya, tapi terasa masih yang itu-itu saja," tambah Iwan Irawan.

Bersinergi

Baru-baru ini, tiga perhelatan berlangsung secara berentetan, seperti Ajang Teater Sumatera (ATS) lll (28-30 Juni), Parade Teater (1-3 Juli), dan Parade Tari (7 Juni). Selain itu, juga akan digelar pertunjukan teater secara mandiri oleh Suku Seni Riau berjudul Hikayat Orang Laut pada akhir Juli nanti.

Berbagai aktivitas seni pertunjukan ini juga akan terus bergulir hingga akhir tahun. Salah satu pertunjukan teater yang juga akan digelar di Riau pada Juli ini adalah Komunitas Nan Tumpah asal Kota Padang. Karya-karya itu disuguhkan di hadapan publik Pekanbaru sekitarnya.


Sutradara Komunitas


Nan Tumpah Mahatma mengatakan, publik di Pekanbaru sudah dikenal luas sangat apresiatif. Itulah mengapa, ia dan komunitasnya memilih Riau sebagai tempat menggelar karya dalam tahun ini. Ditambah lagi, gedung teater Anjung Seni Idrus Tintin cukup megah dengan dilengkapi pasilitas memadai.


“Mudah-mudahan, masyarakat Riau apresiasi pada karya yang akan kami gelar nantinya di Anjung Seni Idrus Tintin,” kata Mahatma.

Sebelumnya, salah satu Teaterawan Indonesia Radhar Panca Dahana cukup terkejut atas fenomena yang terjadi di Riau. Saat pelaksanaan ATS lll lalu, meski dalam kondisi libur panjang, ternyata masih banyak juga masyarakat umum, pelajar, mahasiswa yang mau menonton 10 karya yang dibentangkan tiga malam berturut-turut.

“Wah ini benar-benar di luar dugaan saya. Saya malah khawatir penoton sedikit. Ini sudah sama seperti di Jakarta. Saya juga dengar masyarakat di sini mau membeli tiket hingga Rp50.000 hanya untuk menonton teater. Ini sangat membanggakan,” ujar Radhar.

Selain komunitas menggelar karya mandiri dengan menjual tiket, Radhar juga melihat perhatian pihak terkait cukup lumayan menjanjikan. Karenanya, ia berharap seniman mampu terus bersinergi dengan siapa saja, termasuk pemerintah agar geliat dan gerakan kesenian terus berkembang dan maju.

“Saya juga berniat mau pentaskan karya ke Riau, melihat gerakan yang menyenangkan ini,” kata Radhar.***

Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=185795&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi