Riaupos.co

Pementasan Hikayat Orang Laut
Masa Depan Yang Entah
2018-07-29 08:49:38 WIB
 
Masa Depan Yang Entah
 
"Saya sepakat, bahwa puisi itu induk seni. Maka ia melahirkan anak-anak seni, yang banyak perangai. Puisi dalam teater, atau teater dalam puisi, menjadi tak penting lagi, ketika keduanya menjadi satu darah, sekandung dalam sebuah pertunjukan," ujar Marhalim Zaini (MZ), sutradara Hikayat Orang Laut (HOL).
-------------------------------------------------------------------------------------

(RIAUPOS.CO) - USAI mementaskan karya perdana mereka berjudul, Dilanggar Todak, kini MZ bersama Suku Seni Riau kembali menyuguhkan karya kedua mereka dengan judul, Hikayat Orang Laut di Anjung Seni Idrus Tintin, 28-29 Juli. Karya kedua ini masih dalam suguhan ’teater puisi’. Inilah teater, sebuah karya seni pertunjukan yang bisa dan sah bertolak dari apa saja.


"Seni teater hari ini, adalah seni yang semakin kompleks. Ia tidak berhenti pada teater sebagai entitas seni, tapi ia bergerak menerabas batas. Tak perlu hari ini, bertanya lagi tentang definisi, tapi yang perlu kini menciptakan ruang-ruang baru. Teater masa kini, justru adalah sebuah ruang yang paling mungkin untuk beradaptasi dengan zaman, dengan jenis seni apapun, karena "teater" itu sendiri, pada saat yang lain, adalah bukan semata bentuk seni, tapi adalah kehidupan itu sendiri," papar MZ berfilosofi.

Dijelaskannya, pertunjukan teater-puisi HOL, tidak berpretensi meluruskan atau membengkokkan sejarah. Tapi sejarah dalam HOL adalah “sejarah yang kalah.” Kekalahan Orang Laut menghadapi zaman, kekalahan Orang Laut menghadapi kehendak kekuasaan, kekalahan Orang Laut menghadapi dirinya sendiri, yang seolah terbelah antara peradaban darat dan peradaban laut.

HOL sebagai sebuah produk kesenian, harus berpihak. Keberpihakan HOL adalah—selain keberpihakan artistik—juga keberpihakan ideologis. Keberpihakan terhadap upaya penguatan-penguatan daya pikir masyarakat hari ini (khususnya masyarakat Melayu modern) terhadap sejarah sebuah peradaban, melalui karya kreatif.

Proses kreatif penciptaan teks panggung HOL adalah proses keluar-masuk, dari sejarah ke realitas kekinian. Proses tersebut, bisa jadi, berkelindan dalam keliaran yang jauh, tapi tetap kembali ke muara: oto-kritik atas diri orang Melayu sendiri, atas diri umat manusia. Maka simbol-simbol bermain sangat dominan dalam artistik pertunjukan teater-puisi ini.



Kata-kata (teks verbal) kadang hanya lalu-lalang untuk sekadar menyambung narasi, memperkokoh peristiwa, atau bahkan ia menjadi simbol itu sendiri. Sebagaimana teks puisi yang kerap menampilkan citraan dan imaji. Boleh jadi, penonton akan menyaksikan puisi yang bergerak sunyi penuh citraan di panggung HOL. Meskipun begitu, simbol utama tetap bersumber dari teks puisi “HOL”, yang lebih dekat dunia laut, dunia maritim, dunia kepulauan, maka jaring, kajang, dayung dan sejenisnya tetap dipertahankan sebagai simbol kunci yang memperkuat relasi-relasi tematik.

Selain pertunjukan ini juga bersumber dari puisi panjang “Hikayat Orang Laut” karya Marhalim Zaini sendiri, boleh jadi juga teater-puisi adalah sebuah ruang pencarian bentuk-bentuk “estetika baru” dalam wilayah yang lebih luas, yang mencoba mempadu-padankan antara puisi dan teater. Sekaligus, di lain sisi, melepaskan ikatan-ikatan definitif kedua genre tersebut, untuk kemudian meleburkannya dalam satu ikatan baru.

"Boleh jadi juga, teater-puisi adalah sebuah istilah untuk kemudian saling meniadakan, dan melebur menjadi satu entitas baru, yang mungkin belum bernama," ungkap MZ.

Dalam sinopsis HOL, MZ menyatakan, orang-orang laut terus berdebat tentang sejarah hidup mereka, tentang peradaban laut yang surut didera pasang peradaban darat. Mereka terus bertanya siapa diri mereka sesungguhnya. Kembali kepada sejarah yang kalah, atau menuju ke masa depan yang entah. Sementara waktu, terus bergerak cepat, meninggalkan sampah-sampah jejak masa lalu yang tak mudah diurai.


Orang Laut dalam Sajak

Dalam karya ini, MZ menuturkan riwayat hidup orang laut, terutama yang berada di Kepulauan Riau (Kepri), dan rumpun suku laut di Semenanjung Malaya. Karya itu, bersumber dari sebuah puisi Marhalim Zaini (dimuat di Kompas, 2010) dengan judul yang sama. Maka dalam pertunjukan ini, ia menyuguhkan model pertunjukan simbolik yang memadu-padankan antara kekuatan teks puisi dan eksplorasi teaterikal.


Pergulatan hidup, problematika dan perlawanan-perlawanan dalam diri orang-orang suku laut dalam lintasan sejarah peradaban Melayu disajikan dalam pertunjukan sebagai kolase-kolase sejarah kecil, yang terpecah-pecah, dalam kitab sejarah yang redup, dan bahkan belum dituliskan.

Sejarah Orang Laut yang juga kerap disebut Orang Selat, bahkan kerap juga disebut juga dengan Orang Lanun, mencakup berbagai suku dan kelompok masyarakat yang bermukim  di pulau-pulau dan muara sungai di Kepulauan Riau-Lingga. Pulau Tujuh, Kepulauan Batam, dan pulau-pulau lepas pantai Sumatera Timur dan Semenanjung Malaya bagian Selatan.

Dulu, Orang Laut memang perompak, namun kemudian Orang Laut jugalah yang menjaga selat-selat dan mengusir bajak laut, mengawal para pedagang sampai ke pelabuhan-pelabuhan kerajaan. Bahkan Orang Laut-lah yang berperan mendukung hegemoni kerajaan-kerajaan di Selat Malaka.

“Ketika Kerajaan Melaka jatuh, Orang Laut tetap setia mendukung keturunan kerajaan sampai mendirikan Kerajaan Johor,” paparnya.

Diburu Para Penikmat

Suguhan produksi Hikayat Orang Laut menjadi tontonan alternatif yang menyenangkan. Terutama bagi masyarakat Kota Pekanbaru sekitarnya. Terbukti, cukup ramai penonton yang hadir ke gedung teater tertutup Anjung Seni Idrus Tintin. Mereka menjadi saksi utama atas peristiwa tersebut dan memberikan apresiasi yang tinggi. Palingtidak, sebagai sebuah seni pertunjukan, teater-puisi menjadi salah satu pilihan yang juga diminati masyarakat.


HOL sendiri menjadi informasi baru bagi sebagian penonton. Bahkan banyak pula dari mereka tidak mengetahui, keberadaan Suku Laut yang ada di kawasan Melayu. Suguhan MZ tentang Suku Laut menjadi informasi baru atau sebagai pembuka jalan bagi mereka untuk tahu lebih jauh. Bahwa orang laut hingga hari ini masih hidup dalam keterasingan. Mereka masih mengais kedirian di tengah peradaban dunia yang semakin maju.

“Saya baru tahu, baru sadar, dan tak menyangka, orang laut yang dimaksudkan dalam karya ini, sangat berjasa besar dalam dunia Melayu. Mereka ikut berjuang mengusir penjajah para Wira Melayu masa lampau seperti Raja Haji Fisabilillah,” kata salah satu penonton, Aditya usai pertunjukan malam pertama, Sabtu (28/7).

Ditambahkan Aditya, tentu banyak lagi sumber inspirasi dari peradaban Melayu yang belum terangkat ke permukaan. Masih banyak sejarah yang terabaikan untuk diangkat ke permukaan sebagai karya seni, salah satunya teater.

“Kita bisa saksikan sendiri, cukup ramai orang bersedia datang untuk menonton. Mereka bahkan mau merogoh kantong untuk membeli tiket masuk. Jayalah teater Riau,” kata Aditya yang juga seorang guru di SMA swasta.***


Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=187240&kat=24

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi