Riaupos.co

Hari Ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan RI
Jelang HUT Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia Ratapan Ibu Dibersihkan,TNI Siap Kibarkan Bendera Raksasa
2018-07-31 15:13:55 WIB
 
Jelang HUT Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia Ratapan Ibu Dibersihkan,TNI Siap Kibarkan Bendera Raksasa
 
PAYAKUMBUH (RIAUPOS.CO) - Jembatan Ratapan Ibu Payakumbuh, Jumat (27/7) pagi, bagaikan gula dikerumuni semut. Di bawah jembatan bersejarah tersebut, persisnya di ruang terbuka hijau (RTH) Ibuh, ratusan anggota TNI, Polri, dan PNS, nampak berkumpul dengan masyarakat yang tergabung dalam FKPPI, Komunitas Merah Putih, dan Komunitas Go-Jek.

Tidak sekadar berkumpul, ratusan aparatur negara dan masyarakat juga terlihat sibuk membersihkan kawasan jembatan Ratapan Ibu. Aksi gotong-royong atau bersih-bersih ini dilakukan untuk menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang jatuh pada 17 Agustus mendatang.

“Gotong royong ini disamping persiapan peringatan HUT RI, juga dilakukan agar taman ini bersih dan bisa dimanfaatkan ke depan. Sekarang kondisinya kan agak terbengkalai. Mudah-mudahan dengan gotong royong ini, taman betul-betul menjadi RTH sekaligus tempat wisata buat keluarga dan masyarakat kita,” ujar Kapten Inf Jhoni Forta, Wadanramil 01/Payakumbuh kepada JPG.

Selain Kapten Joni Forta, aksi bersih-bersih di kawasan jembatan Ratapan Ibu juga dihadiri Dandim 0306/50 Kota Letkol Kavaleri Solikhin, Asisten II Setdako Payakumbuh Iqbal Bermawi, dan sejumlah kepala OPD. Bersama merka,  juga hadir sejumlah perwira dari Kodim 0306/50 Kota, Batalyon Infanteri 131/Braja Sakti, Detasemen Zeni Tempur (Denzipur) 2 Prasada Sakti Padang Mengatas, dan Polres Payakumbuh.

Menurut Iqbal Bermawi, kawasan jembatan Ratapan Ibu pada tahun ini akan dijadikan sebagai salah satu titik kegiatan peringatan HUT RI tingkat Payakumbuh. “Nanti pada peringatan HUT ke-73 RI,  di lokasi ini akan dikibarkan bendera raksasa ukuran 45 x 17 meter. Dengan adanya pengibaran bendera raksasa ini diharapkan, masyarakat bisa berwisata sekaligus mengenali sejarah bangsa,” kata Iqbal.

Sekadar diketahui, jembatan Ratapan Ibu memang punya sejarah yang panjang. Sepanjang aliran Batang Agam: sungai yang mengalir tenang di bawahnya. Tapi terkadang juga bisa meluapkan amarah, dengan menghanyutkan segala yang melintang dari hulu.

Dibangun kolonial Belanda hampir dua ratus tahun silam, jembatan Ratapan Ibu, tidak hanya menjadi bukti adanya mobilisasi tenaga kerja pribumi yang serba gratis di zaman cultuurstelsel. Tapi juga menjadi penanda, kawasan sekitar Gunung Sago nan subur, pernah menghasilkan kopi dan tembakau yang diangkut lewat jembatan tersebut.

Bukan itu saja, jembatan Ratapan Ibu, diyakini pernah menjadi tempat eksekusi mati bagi pribumi dan ‘mata-mata’ Cina yang melawan Jepang, setelah Belanda hengkang dari negeri ini. Paling tidak, pahlawan nasional Cina bernama Yu Dafu, dipercaya warga Tionghoa Payakumbuh, dibunuh Kempetai dari atas jembatan tanpa rangka besi itu.

Sejarah berlanjut. Setelah Jepang hengkang, lalu Belanda kembali dengan Agresi Militer II-nya, jembatan Ratapan Ibu, menjadi bukti betapa sulitnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di atas jembatan itu, pada akhir Februari 1949, mereka yang  meminjam  istilah penyair Taufik Ismail “tidak masuk dalam buku teks sejarah, baik sejarah resmi versi yang berkuasa, maupun versi partikelir atawa swasta”,menyerang Agresor II Belanda.

Serangan terhadap Belanda di atas jembatan yang hanya direkat dengan kapur dan semen ini, merupakan serangan yang dirancang berdasarkan ‘rapat heroik’ pejuang Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Lurahkincia, Situjuahbatua, 15 Januari 1949. Serangan itu, jelas mendahului serangan umum 1 Maret 1949 yang dipimpin Letkol Soeharto di Jogjakarta.

Sayang, sejarah bangsa ini, seakan luput mencatat “serangan umum” di atas jembatan Ratapan Ibu. Padahal, akibat serangan demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia itu, banyak nyawa meregang.(das)



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=187345&kat=26

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi