Riaupos.co

Massa Desak Polda Usut Dugaan Penggelapan Hasil Panen Sawit
2018-08-28 14:30:09 WIB
 
Massa Desak Polda Usut Dugaan Penggelapan Hasil Panen Sawit
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Puluhan massa yang tergabung dalam Mahasiswa Perjuangan Rakyat Riau (MPRR), melakukan aksi demo di Mapolda Riau, Senin (27/8). Mereka mendesak Kepolisian Daerah (Polda) Riau untuk melanjutkan penyidikan dugaan penipuan dan penggelapan hasil panen sawit warga Rokan Hilir.


Dalam kasus ini, Polda Riau telah mengusutnya sejak tahun 2016 lalu. Itu dilakukan berdasarkan Laporan Polisi No STPL/520/X/2016/RIAU/SPKT tanggal 10 Oktober 2016. Kasus ini sudah naik ke tahap penyidikan. Tapi belum ada tersangka.


Dalam perjalananannya, Polda Riau menghentikan penyidikan dengan diterbitkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3). Tak terima dengan SP3 ini, masyarakat mengajukan praperadilan ke PN Pekanbaru. Hasilnya, hakim memutuskan bahwa SP3 dicabut, dan Polda diminta untuk melanjutkan penyidikan tersebut.


Dalam aksi demo ini, puluhan massa melakukan orasi di depan Mapolda Riau. Mereka menilai bahwa, inisial Sa adalah pihak yang bertanggung jawab dalam kasus tersebut. Massa mendesak Polda Riau untuk menetapkan Sa sebagai tersangka.


‘’Dia (Sa, red) telah jelas melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan hasil panen sawit warga Rohil, selama sembilan tahun,” kata kordinator lapangan aksi, Daniel Siragi.


Menurutnya Sa ketika itu adalah mitra Koperasi Sejahtera Bersama, dalam pengelolaan kebun sawit milik koperasi seluas 1.102 hektare. Namun, Sa hanya memberikan beberapa kali hasil kebun itu kepada koperasi, terhitung sejak Juni 2009 hingga 2018. Sehingga koperasi dinilai telah mengalami kerugian senilai Rp298 miliar.


Oleh karena itu kata Daniel, masyarakat mendesak Polda Riau untuk menangkap inisial Sa yang dianggap telah merugikan masyarakat Rohil. Lalu Kapolda Riau harus jalankan keputusan hakim.


‘’Kami meminta kepada Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo untuk segera melanjutkan perkara ini. Tegakkan supremasi hukum di Riau,” tegasnya.


Masyarakat Rohil kata Daniel Siragi, siap untuk mengawal proses lanjutan penyidikan yang dilakukan oleh Polda Riau. “Kami meminta agar kasus ini segera dilanjutkan penyidikannya. Selama ini, kasus jalan di tempat. Ini merupakan bentuk ketidakadilan yang diperlihatkan oleh pihak kepolisian,” ujarnya.



Perwakilan dari massa ini, diberikan kesempatan untuk bertemu dengan perwakilan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau. Dari hasil pertemuan itu, pihak penyidik sepakat untuk melanjutkan penyidikan tersebut.


‘’Kita akan lanjutkan kasus ini, tapi dimintai kepada bapak dan ibu serta mahasiswa, untuk bersabar dan butuh proses,” ucap penyidik Ditreskrimum Polda Riau di hadapan massa demo.
Penyidik juga berpesan kepada massa demo, untuk ikut membantu penyidikan yang ditangani. Bahkan massa diminta, jika ditemukan bukti-bukti yang mengarah ke kasus ini, untuk menyerahkannya ke penyidik.


Massa lainnya, Azri Mahendra mengatakan, siap mengawal proses penyidikan lanjutan yang dilakukan penyidik Polda Riau terhadap kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Sariantoni. ‘’Kami siap mengawal kasus penyidikan ini hingga pada putusan hakim,” sebut Azri.


Dari hasil percakapan yang dilakukan secara tertutup di dalam kantor penyidik Direskrimum Polda Riau, dirinya mengakui bahwa penyidik telah mencabut kembali SP3 kasus Sa.


‘’Di dalam tadi, kita sudah dengar dari mulut penyidik, bahwa SP3 sudah dicabut. Penyidikan kasus ini dilanjutkan. Kami di sini hanya meminta lanjutkan putusan sidang praperadilan yang telah dimenangi oleh rakyat Rohil. Cabut SP3-nya dan tangkap Sa. Saat ini sudah terealisasi. SP3 sudah dicabut, tinggal menunggu penyidik mengumpulkan bukti-bukti untuk dilanjutkan kasus ini,” terang Azri.


Sa sendiri diketahui selaku mitra kerja koperasi masyarakat untuk menggarap lahan pertanian kelapa sawit. Namun seiring berjalannya waktu, dia melakukan kerja sama kembali dengan pihak lainnya, yakni PT To.


Azri sempat mengancam, jika kasus ini tidak berjalan dengan harapan rakyat Rohil, dia tidak segan-segan mengeluarkan massa yang lebih banyak lagi.


“Kita mengharapkan dari pejabat yang baru ini (Brigjen Pol Widodo Eko Prihastopo), agar kasus ini terlaksana sesuai dengan keinginan rakyat Rohil. Jika tidak, kita akan turunkan massa lebih banyak lagi,” sebut Azri.


Sedangkan kuasa hukum Koperasi Karya Bersama Abu Bakar Sidik SH MH, mengapresiasi aksi yang dilakukan masyarakat Rohil yang didampingi mahasiswa ini. Abu Bakar Sidik menilai, dalam kasus ini diduga ada keberpihakan pihak penegak hukum. Buktinya, kasusnya di-SP3.  ‘’Namun setelah kita lakukan praperadilan, akhirnya majelis hakim memutuskan kasus tersebut harus dilanjutkan,” kata Abu Bakar Sidik.


‘’Kami meminta  kepada Kapolda yang baru, membuka kembali kasus ini, karena hal ini memang wajib. Tidak ada cerita tawar menawar sebab masyarakat menunggu kelanjutan kasus ini. Sudah jelas siapa yang diduga melakukan tindak pidana dalam perkara ini,” ungkap Abu Bakar Sidik.(dal/mng)

 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=188427&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi