Riaupos.co

6,8 Ton Lebih Komoditas Berbahaya Dimusnahkan
2018-09-11 11:25:22 WIB
 
6,8 Ton Lebih Komoditas Berbahaya Dimusnahkan
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) ---------- Balai Karantina Pertanian Klas I Pekanbaru, musnahkan sebanyak 6,8 ton komoditas berbahaya. Setidaknya, ada delapan jenis komoditas asal luar negeri yang dimusnahkan pada Senin (10/9) tersebut.


Pemusnahan dilakukan di lingkungan kantor Balai Karantina Pertanian Pekanbaru yang beralamat di Kelurahan Simpang Tiga, Pekanbaru. Pemusnahan itu dilakukan dengan dibakar. Sebelum dibakar, komoditas berbahaya itu dimasukkan ke lubang yang sudah digali.
Komoditas yang dimusnahkan itu, sudah mengeluarkan bau yang tak sedap. Ada delapan jenis dan mayoritas adalah bawang merah, yang jumlahnya mencapai 6,8 ton.


Kemudian, daging sapi sebanyak 30 kg, buah melon 10 kg, daging babi 5,4 kg, beras 5 kg, bawang putih 4 kg, buah apel 2 kg, dan daging bebek 4,5 kg. “Semua komoditas yang kita musnahkan ini berasal dari luar negeri,” kata Kepala Karantina Pekanbaru Rina Delfi.


Dijelaskannya, pemusnahan itu dilakukan untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit yang ada dalam komoditas tersebut. Baik itu dalam tumbuhan, maupun hewan. Ini kata Rina, juga untuk melindungi kelestarian sumber daya alam hayati.


Diduga, sejumlah komoditas itu mengandung bahan kimia dan biologi yang berbahaya bagi kesehatan manusia. “Ini masuk secara ilegal dan tidak melalui pengujian laboratorium dari negara asal,” ujar dia.


Hal ini juga mencegah masuknya penyakit hog cholera, flu burung, serta penyakit mulut dan kuku yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Semua komoditas tersebut kata dia, diamankan oleh Karantina Pertanian Pekanbaru, setelah bekerja sama dengan berbagai pihak. Baik itu pihak Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Polri, Bea Cukai, dan Kantor Pos.


‘’Komoditas tersebut diamankan karena tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan dari negara asal, dan tidak dilaporkan kepada petugas karantina,” ujar dia.
Hal tersebut kata Rina, jelas telah melanggar Pasal 5 jo Pasal 9 Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, lkan dan Tumbuhan.


Dia juga menjelaskan, Provinsi Riau bukanlah merupakan pemasukan atau impor bawang merah dan buah-buahan dari luar negeri. Daerah sebagai pintu masuk bawang dan buah impor, sudah ditetapkan dalam Permentan Nomor 42 Tahun 2012 dan Permentan Nomor 43 Tahun 2012.


‘’Sesuai Permentan itu, tempat pemasukan bawang merah dan buah-buahan yang ditetapkan adalah Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Pelabuhan Belawan Medan, Bandara Soekamo-Hatta Jakarta dan Pelabuhan Laut Soekarno-Hatta Makassar,” ujarnya.


Dijelaskannya, pemasukan barang merah dan buah-buahan tersebut, tidak memenuhi ketentuan Permentan Nomor 55 Tahun 2016 tentang Pangan Segar Asal Tumbuhan. Karena, tidak dilengkapi sertifikat hasil uji kemananan pangan (certificate of anaIysis) dan sertifikat keterangan asal.


Penahanan komoditas hewan dan tumbuhan tersebut, kata dia, merupakan hasil kerja sama antara petugas Karantina Pekanbaru dengan Polri, Bea Cukai, Kantor Pos dan Avsec Bandara SSK ll Pekanbaru.


“Hal ini merupakan tindak lanjut dari perjanjian kerja sama yang telah dibuat antara Badan Karantina dengan instansi tersebut,” ujarnya.


Dalam pemusnahan itu, dihadiri juga oleh perwakilan dari Kejati Riau, Polda Riau, Polres Siak, Bea Cukal dan Bandara SSK II Pekanbaru.(dal/val)




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=189012&kat=3

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi