Riaupos.co

PIALA DUNIA 2018
Permasalahan Internal yang Menghancurkan Jerman
2018-06-29 00:26:12 WIB
 
Permasalahan Internal yang Menghancurkan Jerman
 
Catatan Hary  B Koriun

"AKU, dengan ini, mundur secepatnya dari tim nasional. Bagiku, sudah jelas bahwa aku sepertinya tidak cocok dengan tim pelatih dengan caraku yang selalu terbuka, terus terang dan langsung untuk membicarakan banyak hal…"

Terkesan berlebihan dan emosional, memang, tetapi itulah pilihan Sandro Wagner ketika namanya tak masuk dalam 29 nama yang disiapkan oleh pelatih Jerman, Joachim Loew, Mei lalu. Pencetak 9 gol untuk Bayern Muenchen di Bundesliga musim lalu itu kecewa berat karena sebelumnya dia masuk dalam skuad “muda” Jerman yang meraih juara Piala Konfederasi 2017.

Dalam 29 nama itu,  dia disingkirkan oleh Mario Gomez, Thomas Mueller, Marco Reus, Leroy Sane, Timo Werner,  Julian Brandt, dan Nils Petersen pada komposisi penyerangan Der Panzer. Beberapa nama besar seperti Emre Can atau Mario Goetz juga tak ada. Mereka berdua alasannya jelas: yang satu cedera, yang satu peformanya menurun jauh usai jadi pahlawan di final Piala Dunia 2014 lewat gol tunggalnya ke jala Argentina di Brazil.

Pada perkembangan selanjutnya, ketika Loew mengumumkan 23 nama resmi, kejutan juga datang: Sane dicoret. Juga pencetak 16 gol untuk Ausburg di Bundesliga musim lalu, Nils Petersen. Untuk Petersen, orang bisa maklum: dia bermain di klub tak ternama dan belum pernah memperkuat Jerman. Tapi Sane? Dia adalah salah satu pembelian terbaik Manchester City musim lalu. Pemain sayap kiri ini mencetak 14 gol dan 19 asisst di semua ajang yang diikuti City. Alasan Loew tak membawanya karena selama bermain untuk Jerman, Sane tak sebagus di City. Loew lebih memilih sayap Bayer Leverkusen, Julian Brandt.

Sane memang kecewa, tetapi dia tak seemosional Wagner yang kemudian memilih pensiun dari timnas meski baru punya 8 caps. Sane hanya merasa ada yang salah dengan kegagalannya masuk dalams kuad Loew. Dia merasa melakukan musim yang luar biasa bersama City, dengan salah satunya memberikan gelar Premiership. Tapi, itu ternyata tak cukup.

Kabarnya –boleh percaya boleh tidak— bermula dari tak dipanggilnya Sane inilah terjadi perpecahan internal di tim Jerman. Muncul dua kelompok pada pemain senior peraih juara Piala Dunia 2014. Yang pertama adalah kelompok para pemain imigran yang diketuai oleh Mesut Ozil beranggotakan Sami Khedira, Ilkay Gundogan, Jerome Boateng, dan Julian Draxler. Mereka mempertanyakan mengapa Sane tak dipanggil. Apakah dia lebih buruk dari Reus dan Brandt?

Isu rasial ini berkembang setelah kelompok kedua yang merupakan kumpulan pemain Jerman dengan darah asli dari penduduk setempat, membela Loew. Kelompok ini “dipimpin” kapten sekaligus kiper Manuel Neuer dan beranggotakan Mats Hummels, Thomas Muller dan Toni Kroos. Mereka yakin Loew sudah melakukan hal yang benar.

Puncak dari “pertarungan” dua kelompok ini terjadi saat Jerman berhadapan dengan Swedia di pertandingan kedua. Secara bersamaan, Ozil, Khedira, dan Gundogan tak dimainkan setelah Jerman kalah dari Meksiko di pertandingan pertama. Lalu, di pertandingan ketiga saat melawan Korea Selatan (Korsel), terjadi perubahan yang signifikan. Ozil dan Khedira dimainkan, plus tiga pemain lainnya yang sebelumnya tak dimainkan: Leon Goretzka, Hummels, dan Niklas Sule. Sule dan Goretzka malah sebelumnya belum semenit pun bermain.  Perubahan ini memakan korban. Julian Draxler dan Mueller menepi. Sebelumnya, publik Jerman dibuat marah karena Goretzka tak diturunkan saat melawan Meksiko. Pasalnya, di Piala Konfederasi, Goretzka tampil hebat dengan dua gol saat Jerman menang 4-1.


Perubahan susunan pemain saat melawan Korsel inilah yang dianggap menjadi persoalan besar dari tersingkirnya Jerman. Saya setuju keputusan Loew mencadangkan Thomas Mueller dan Draxler, tapi mestinya memberi ruang kepada striker murni seperti Mario Gomez yang rajin berada di kotak penalti. Ini berbeda dengan Timo Werner yang lebih sering berada di sayap kiri. Nah, tak adanya sayap kiri murni ini juga menjadi problem berat. Bila saja Loew membawa Sane, masalah bisa teratasi. Leow terlalu yakin bahwa bek seperti Jonas Hector bisa berperan menjadi sayap kiri, padahal beda psikologis seorang gelandang-sayap, sayap murni, atau bek-sayap.

Di babak pertama, Jerman terlalu lambat, tak langsung menekan, sementara Korsel bermain full power, hampir selalu menang duel udara atau bola kedua setelah duel. Mereka sering memotong alur umpan, dan kemudian melakukan serangan balik. Padahal, dalam posisi Meksiko kalah 0-3 dari Swedia, kemenangan 1-0 saja atas Korsel bisa membawa Jerman lolos menyingkan Meksiko.

Di luar persoalan dua geng pemain senior, gap antara pemain muda dan tua juga terjadi. Tudingan bahwa Loew tidak adil –dalam kasus Wagner dan Sane— juga muncul dengan  pilihannya terhadap Neuer yang langsung jadi kiper utama dan kapten tim, padahal dia sudah tak bermain di Muenchen sejak April 2017. Begitu sembuh, langsung jadi kiper utama dan kapten! Loew tak memandang sedikit pun bagaimana Ter Stegen berjuang di Rusia di Piala Konfederasi dengan membawa pulang trofi, plus hampir di semua partai ujicoba. Di Rusia kali ini, Stegen tak semenit pun main. Bukan hanya kelompok pemain muda, kelompok pemain imigran kabarnya juga protes dengan hal ini.

Persoalan-persoalan internal dari awal pembentukan tim hingga gap antara anak muda dan pemain senior saat di Rusia, plus isu rasialis dalam tim ini tak bisa diselesaikan oleh Leow. Padahal, dengan keberhasilan Jerman juara Piala Konfederasi dengan skuat muda, banyak orang yakin telah terjadi alih generasi yang baik di kubu Jerman. Namun, karena manajemen Loew gagal menanganinya, yang terjadi justru menjadi manajemen konflik yang membawa Jerman pada titik nadir.

Publik Jerman tak perlu marah terhadap para pemain Korsel --yang banyak bermain di klub-klub Jerman-- seperti reaksi buruk publik Italia terhadap Ahn Jung-Hwan di Piala Dunia 2002 lalu. Sebab, meski tipis, Korsel sendiri masih punya peluang lolos. Bayangkan, seandainya Swedia takluk di tangan Meksiko, dengan kemenangan 2-0 itu bisa membawa Taeguk Warrior lolos ke 16 Besar.

Bukan lawan yang menghancurkan Jerman. Sang juara bertahan sudah hancur dari dalam. Meksiko dan Korsel hanya memanfaatkan kondisi itu, plus Swedia yang nyaris membuat Jerman tersingkir lebih cepat sebelum gol telat lewat tendangan bebas Kroos.
Kini, sepulang dari Rusia, yang harus dilakukan federasi adalah melakukan investigasi pada semua rumor tersebut. Jika terbukti, maka tidak ada cara lain selain melakukan pemangkasan generasi (peremajaan), melakukan rekonsiliasi jika isu rasial itu benar, mengganti pelatih, dan siap memulai dari bawah menuju kematangan para pemain muda.***



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=185228&kat=31

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi