Riaupos.co

Oleh: Abdul Somad
Ketika Ruh Bertemu Jasad
2018-05-17 09:11:33 WIB
 
Ketika Ruh Bertemu Jasad
 
(RIAUPOS.CO) - Ketika penulis sedang berjalan di pasar kota Rabat Kerajaan Maroko, terlihat buletin kecil dengan sampul bertuliskan, “Marhaban ya Syahr an-Nifaq” (Selamat Datang Bulan Kemunafikan). Terlintas rasa marah di hati melihat tulisan ini, karena seperti melecehkan Ramadan yang mulia. Namun terkadang sebagian perbuatan umat Islam membenarkan asumsi di atas. Harian al-Ahram Mesir menulis bahwa keperluan tabung gas masyarakat Kairo pada bulan Ramadan meningkat dua kali lipat dibanding hari-hari biasa.

Seorang sahabat pula berbisik, “Pada bulan Ramadan, sampah Kota Pekanbaru meningkat seratus ton dibanding bulan lain”. Betapa sebagian besar kaum muslimin menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan pesta kuliner. Bulan yang semestinya dijadikan sebagai bulan mengekang hawa nafsu, justru menjadi bulan melepas hawa nafsu. Dari mana semua ini datang, tentulah dari pertemuan jasad dengan ruh.


Ruh dan Jasad

Ketika ruh bertemu dengan jasad, muncullah nafsu keinginan. Tanah yang sebelumnya mati, tidak memiliki keinginan. Namun ketika ruh ditiupkan ke dalamnya, ia mulai memiliki sifat lain yang sebelumnya tidak ada pada dirinya, ingin memiliki teman.  “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita …”. (Qs. Al ‘Imran [3]: 14). Teman itu dibuat dari dirinya sendiri, “Sesungguhnya pertemuan itu diciptakan dari tulang rusuk. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang berada pada bagian atas. Jika engkau luruskan, ia akan patah. Jika engkau biarkan, ia akan terus bengkok. Sampaikanlah pesan  kebaikan pada perempuan”. (HR. al-Bukhari dan Muslim). Pertemuan antara ruh dan jasad itu juga memunculkan keinginan yang lain. Ingin makan, meskipun makanan itu dilarang. “Dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Qs. al-Baqarah [2]: 35). Larangan itu keras, tapi keinginan pula lebih kuat, akhirnya nafsu keinginan mengalahkan larangan. Tapi setelah perbuatan ada kesadaran, memang penyesalan selalu hadir setelah perbuatan. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (Qs. al-Baqarah [2]: 37). Muncul persaingan yang berakhir pada pemusnahan, “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang di antara orang-orang yang merugi”. (Qs. al-Ma’idah [5]: 30).

Bulan Rehabilitasi

Ramadan tidak hanya sekadar bulan meraih pahala, tapi juga bulan untuk memperbaiki segala efek yang ditimbulkan dari pertemuan jasad dengan ruh. Islam bukan agama yang mengharamkan nafsu makan, tidak pula membenarkan memakan segala sesuatu. Islam memberikan kebebasan yang diikat dengan aturan syariat (hurriyyah muqayyadah). Dalam masalah makanan, Allah SWT memberikan aturan, “Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (Qs. al-A’raf [7]: 31). Seiring dengan itu, Rasulullah SAW menegaskan, “Makanlah, minumlah, berpakaianlah dan bersedekah, tanpa sikap berlebih-lebihan dan bukan karena kesombongan”. (HR. Ahmad).

Praktik mengendalikan hawa nafsu makan ini diterapkan dalam puasa Ramadan. Hasrat terhadap perempuan, Islam tidak mengharamkan perempuan, namun tidak pula membebaskan tanpa ikatan dan aturan. Allah SWT telah menggariskan. “Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu”. (Qs. an-Nur [24]: 32). Rasulullah SAW memberikan penjelasan, “Wahai para pemuda, siapa di antara kamu yang telah mampu, maka menikahlah. Karena nikah itu menjaga mata dan memelihara kemaluan. Siapa yang tidak mampu, hendaklah ia berpuasa. Karena puasa itu menjadi penjaga baginya”. (HR. Muslim).

Di bulan Ramadan, hasrat itu bukan dibuang, tapi dikendalikan. Islam tidak membuang hawa nafsu, tapi menempatkannya pada tempat yang benar. Dalam pengendalian itu ada balasan. Manusia dihadapkan pada dua pilihan, mengendalikan hawa nafsu atau dikendalikan hawa nafsu. Puasa mendidik penanaman rasa takut kepada Allah SWT, karena tujuan akhir dari puasa adalah, “Agar kamu bertakwa (takut kepada Allah SWT)”. (Qs. al-Baqarah [2]: 183). Hanya orang yang takut kepada Allah SWT saja yang mampu mengendalikan hawa nafsu. Ketika ia mampu, maka surgalah baginya. “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Qs. an-Nazi’at [79]: 40-41).

Ketika seseorang mampu mengubah diri dengan pelatihan Ramadan, maka ia termasuk orang yang beruntung dengan kehadiran Ramadan. Namun ketika Ramadan hanya sekadar rutinitas tahunan, maka Rasulullah SAW memberikan ancaman. “Berapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya melainkan hanya lapar dan haus saja”. (HR. Ahmad). Malaikat Jibril pula pernah mendoakan mereka. “Celakalah orang yang bertemu dengan Ramadan, tapi ia tidak mendapatkan ampunan”. Rasulullah SAW menyambut ucapan malaikat Jibril itu dengan ucapan, “Amin, perkenankanlah ya Allah”. (HR. al-Hakim).

Cahaya Bersujud

Tanah, warnanya hitam, baunya busuk, derajatnya rendah. Sedangkan cahaya terang-benderang, berkilau, tinggi di atas  cakrawala. Namun tiba-tiba cahaya yang tinggi itu bersujud kepada tanah yang rendah. Apakah yang membuat cahaya itu bersujud kepada tanah? Allah SWT memberikan jawaban. “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama”. (Qs. al-Hijr [15]: 29-30). Ternyata, cahaya yang tinggi itu bersujud kepada tanah yang rendah, karena Yang Maha Tinggi telah meniupkan ruh yang suci ke dalam tanah tersebut. Di sanalah clash antara Islam dan Barat. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah SWT. Sedangkan Barat menganggap manusia tidak lebih dari sekadar kelanjutan dari binatang, menurut teori evolusi Darwin. Ruh yang patuh kepada Allah SWT mampu mengangkat derajat tanah yang rendah ke tempat melampaui batas ketinggian cahaya karena tanah itu telah memiliki beberapa sifat lahut.




Puasamu untuk-Ku

Allah SWT mengatakan dalam hadits Qudsi, “Puasamu, untuk-Ku”. (HR. Muslim). Hadits ini menimbulkan musykil (problem). Mengapa Allah SWT menisbatkan puasa kepada diri-Nya? Bukankah Allah SWT tidak memerlukan amal perbuatan manusia? Imam an-Nawawi memberikan jawaban. “Ketika seorang hamba mampu melepaskan diri dari makanan dan semua nafsu syahwat, maka ketika itu ia sedang bersifat dengan sifat-sifat Rabb. Ketika orang yang berpuasa itu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan sifat-sifat yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, maka Allah SWT menisbatkan ibadah itu kepada diri-Nya”. An-Nawawi juga mengutip pendapat al-Qurthubi. “Semua perbuatan manusia itu sesuai dengan kondisi mereka, kecuali puasa. Karena puasa itu hanya sesuai dengan sifat-sifat Yang Maha Benar. Maka seakan-akan Allah SWT berkata, “Orang yang berpuasa itu mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu perbuatan yang terkait erat dengan sifat-Ku”. (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari: 4/108).

Menuju Kemurnian

Kata yang paling dekat dengan kata ikhlash adalah murni. Orang yang memiliki sifat itu disebut mukhlish. Berasal dari kata khalasha, berarti murni tidak bercampur dengan sesuatu apa pun. Air yang tidak bercampur dengan apa-apa disebut al-ma’ al-khalish, air murni. Berat suatu benda yang tidak bercampur dengan sesuatu yang lain disebut al-wazn al-khalish, berat murni alias netto. Dalam puasa, kemurnian itu terjaga dan terpelihara. Di zaman yang teramat sulit untuk mencari kemurnian, maka puasa amat sangat tepat menuju kemurnian, dalam segala aspek kehidupan. Di zaman ini amat sulit mencari kemurnian, semua penuh dengan kepalsuan. Diawali dari makanan yang disuap ke mulut setiap hari, beras palsu. Sampai air zam-zam palsu. Di balik wajah yang ayu, ternyata tersembunyi alis palsu, bulu mata palsu, hidung palsu sampai rambut palsu. Dalam dunia intelektual dijumpai ijazah palsu. Di tengah semua kepalsuan itu, maka puasa memiliki peran yang sangat penting untuk membawa umat manusia menuju kemurnian. Semoga kemurnian itu diperoleh di akhir Ramadan, semurni bayi yang keluar dari rahim ibu,

“Siapa yang melaksanakan puasa dan qiyamullail Ramadan hanya karena iman dan mengharapkan balasan dari Allah SWT, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari dilahirkan ibunya”.(HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah).***


ABDUL SOMAD, Alumnus Darul Hadits Kerajaan Maroko




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=182651&kat=38

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi