Riaupos.co

Oleh: Samsul Nizar
Rentang Ideal versus Realitas
2018-05-23 11:33:01 WIB
 
Rentang Ideal versus Realitas
 
RIAUPOS.CO - Dalam Alquran Surat al-Baqarah: 183, Allah memanggil hamba-Nya dengan panggilan yang terindah. Panggilan “hai orang-orang yang beriman...”. Sebuah panggilan istimewa dari Khaliq kepada hamba-Nya.

Panggilan tersebut disebabkan perintah puasa merupakan  ibadah khusus dari hamba untuk Allah. Sehingga hanya Allah yang akan memberi derajat kepada orang yang berpuasa. Namun, puasa sebagai bulan tarbiyah dengan sejuta keutamaannya perlu direlevansikan antara ideal dan realitas kemanusiaan. Sebab, panggilan “hai orang-orang beriman” perlu dijawab oleh manusia dalam kedua konteks tersebut. QS al-Baqarah: 183 merupakan harapan menuju perubahan yang idealnya didapat hamba Allah yaitu ketakwaan.

Wujud keimanan yang berbuah ketakwaan adalah manifestasi dalam kehidupan yang membawa pesan-pesan kekhalifahan dengan nilai rahmatan lil ‘alamin. Wujud keimanan diri tatkala tak mampu memberi, maka jangan mengambil hak orang. Tatkala tak mampu memuji maka jangan menghina. Tatkala tak mampu memberi kebahagiaan maka jangan menyusahkan orang lain.

Kesempurnaan iman bukan mencari kesempurnaan diri, tapi menyempurnakan apa yang ada pada diri. Wujud realitasnya melahirnya kesalehan vertikal yang memancar kesalehan horizontal (sosial dan kemakhlukan).

Bila puasa sebagai bulan tarbiyah gagal dijawab oleh hamba-Nya, maka panggilan “hai orang-orang beriman...” akan menjadi sebuah ungkapan tanpa upaya menjawab panggilan Allah. Bila demikian, panggilan siapa yang akan dijawab oleh manusia?

Apakah berarti puasa gagal melaksanakan misinya atau justru manusia gagal memahami puasa dan menjadi hamba yang tidak cerdas selama mengikuti pendidikan di bulan Ramadan? Ketika Ramadan secara bahasa berarti “membakar atau pembakaran” mengandung makna yang dalam. Pembakaran atas dosa dan kesalahan selama ini akan berhasil tatkala proses pembakaran dilaksanakan dengan baik.

Bila proses pembakaran tidak sesuai prosedur, maka bagaikan membakar ikan dengan menggunakan prosedur yang salah. Ikan yang dibakar meski terlihat matang di luar namun mentah dan berdarah di dalamnya. Artinya, bila Ramadan hanya dipahami dan dilaksanakan secara syariat dalam ritual tanpa makna, maka puasa hanya akan menjadi rutinitas untuk sekadar menunjukkan ke-islaman, namun belum mampu mematangkan hati sehingga “matang” untuk bisa merasakan kehadiran Allah.

 Bila hal ini terjadi, maka perlu dipertanyakan terbuat dari apakah hati kita? Apakah lebih keras dari batu sehingga Ramadan tak mampu berbekas sedikit jua. Hati yang gagal dibentuk oleh Ramadan adalah kegagalan manusia menjadikan hati sebagai sumber kebenaran Ilahi. Hati yang dimiliki hanya sebatas menjalankan fungsi kehidupan lahiriah.


Bila demikian, meski puasa dilakukan dan Ramadan silih berganti menemuinya, namun perilaku selama Ramadan (apatahlagi) di luar Ramadan tak memiliki relevansi dengan Ramadan. Perilaku menyuburkan kebohongan semakin meraja, menyebarkan fitnah dan iri dengki, membangun istana kesombongan dalam diri dengan penggawa keangkuhan yang digdaya, senang memakai topeng kesalehan yang anggun dengan asesoris bagaikan “pertapa yang suci” guna menutupi sejuta kesalahan yang akut tersusun rapi.

Senang melihat kesalahan orang namun tak pernah berkaca pada kesalahan sendiri. Menutupi kebaikan oleh selimut duniawi, menghalalkan segala cara untuk membangun derajat dunia melambung tinggi. Pengagum motto setinggi langit namun sebatas mimpi, dan sebagainya. Kesemua ini terjadi tatkala hati yang diciptakan untuk menangkap pesan Ilahi rusak oleh keserakahan duniawi dan kegagalan menjadi “murid Ramadan” untuk lebih menjadi hamba-Nya yang hakiki.

Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin. Dimensi kebahagiaan bagi seluruh makhluk ciptaan Ilahi. Bagi hamba yang dipanggil Allah dengan sebutan “hai orang-orang yang beriman...” akan menjawab panggilan Allah dengan menyebar kebajikan dan kedamaian bagi seluruh ciptaan Allah. Bila manusia justru menyebar teror dan kenestapaan, maka justru telah jauh tergelincir dari ajaran Ilahi. Mereka tertipu oleh bingkai kehampaan yang menyesatkan.

Untuk menjawab realitas keimanan, maka lihatlah Baginda Rasulullah secara benar dan kaffah. Lihatlah kepribadian Rasulullah dalam semua dimensi kehidupan. Begitu damai dan anggun kesempurnaan yang diperlihatkan untuk dicontoh umat yang menjadikannya sebagai utusan akhir zaman.

Sungguh Ramadan bulan keberkahan bagi hamba yang menginginkan kebahagiaan. Sejuta peluang diberikan Allah untuk menambah pundi amal. Namun, dalam beramal sebaiknya jangan bertransaksi ekonomi dengan Khaliq Pemilik Kehidupan. Setiap ibadah acapkali dikalikan dengan pahala dan mengakibatkan bangga dengan kecukupan amal yang dilaksanakan.

Periodedasi transaksi ekonomi hanya bagi pemula mencari hakikat Ilahi. Namun, tatkala Ramadan mampu mendidik insan sebagai hamba yang beriman, maka semua rangkaian hidup bukan perkalian matematika dihadapan Allah, akan tetapi bagaikan hamba yang lapar dan haus memerlukan makan dan minum. Alangkah indah Ramadan dengan sejuta kasih sayang Allah.

Semoga Ramadan tahun ini merupakan Ramadan terbaik dan terindah untuk mereguk manisnya keimanan yang sesungguhnya. Ramadan terbaik akan membuahkan kebajikan, kedamaian, dan kebaikan bagi seluruh alam ciptaan Allah. Wa Allahua’lam bi al-shawwab.***

Oleh: Samsul Nizar, Ketua STAIN Bengkalis




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=183126&kat=38

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi