Riaupos.co

Dayung Ukir Sejarah, Sepakbola Gagal ke 8 Besar
2018-08-25 12:38:03 WIB
 
Dayung Ukir Sejarah, Sepakbola Gagal ke 8 Besar
 
PALEMBANG (RIAUPOS.CO) - Sejarah baru diukir tim dayung Indonesia di Asian Games 2018. Mereka berhasil menyumbang 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu dari sepuluh nomor yang diikuti. Capaian tersebut sekaligus menjadi yang terbaik bagi tim dayung Merah Putih sepanjang Asian Games itu.

Kemarin, satu emas berhasil disabet dari nomor lightweight men’s eight (LM8+) di venue rowing and canoeing Regatta Course Jakabaring Sport City. Sekaligus menyumbang emas kesembilan bagi kontingen Indonesia. Duel seru terjadi antara Indonesia dan Uzbekistan. Skuad yang diisi Ali Buton, Ferdiansyah, Ihram, Ardi Isadi, Denri Maulidzar, Tanzil Hadid, Jefri Ardianto, Muhad Yakin, dan Ujang Hasbulloh itu sempat ketinggalan start dari tim Uzbekistan.

Meski begitu, Indonesia tak mau kalah. Selepas 1.000 meter, Ali Buton dkk menambah kecepatan dan kekuatan tangannya mengayuh. ”Kami ada sandi khusus untuk sprint dengan berteriak wakanda!” ujar Irham, salah satu pedayung LM8+.

Usaha tersebut membuahkan hasil. Mereka mampu menyalip tim Uzbekistan. Memasuki 500 meter jelang finis, tim Indonesia mampu unggul setengah perahu dari tim negara pecahan Uni Soviet itu. Sorak-sorai riuh penonton pun menggema menyemangati pedayung Tanah Air yang sedang bertarung itu.

”Ayoo Indonesia…. Ayoo teruuuuss!” seru penonton riuh.

Hingga akhirnya, suara ratusan penonton yang memadati tribun bergemuruh selepas perahu Indonesia mampu finis di posisi pertama. Sembilan pedayung yang masih berada di atas perahu pun berteriak lepas sembari mengangkat kedua tangan mereka yang mengepal. Sampai-sampai Ujang yang bertugas sebagai juru mudi berdiri di atas kapal meluapkan kegembiaraannya.

Melihat kesuksesan tim LM8+ di pesta olahraga Asia tersebut tidak lepas dari perjuangan para atletnya. Minimnya kompetisi di dalam negeri, membuat mereka kesulitan untuk mengasah kemampuan. ”Hanya ada tiga kompetisi rowing di Indonesia. Cuma Kejurnas, Pra-PON, dan PON,” terang Irham.

Maklum, rowing bukan termasuk olahraga populer di Indonesia. Selama ini, PB PODSI menyeleksi atlet-atlet pelatnas berdasarkan tiga kompetisi itu. Meski beregu, pemilihan skuad LM8+ diseleksi secara individu. Selain itu, mereka juga harus sering bertanding di luar negeri untuk meningkatkan kemampuan para atletnya. ”Rowing ini olahraga yang memerlukan biaya besar. Support pemerintah sangat penting bagi kami,” ucap manajer tim dayung Budiman Setiawan.

Perlu 7 tahun berlatih bersama bagi tim LM8+ untuk mewujudkan emas. Setiap tahun harus ada kenaikan tren positif. Di kancah Asia Tenggara, nomor yang melibatkan delapan pedayung itu selalu menyabet emas sejak tahun 2011, 2013, dan 2015. Tahun lalu, di Malaysia, tidak dipertandingkan. Selain itu, tim LM8+ juga mengikuti kejuaraan internasional di Eropa untuk mengadu kemampuan sekaligus menambah jam terbang. Khusus, persiapan jelang Asian Games 2018, mereka melakoni tiga kali turnamen. Sekali di Australia dan dua kali di Belanda.


Mereka sukses menjadi jawara di Sydney International Rowing Regatta, Australia pada 25 - 31 Maret lalu. Kemudian, menggelar training camp digelar di Belanda sejak 20 Mei. Di sana, tim LM8+ mengikuti dua seri kejuaraan rowing Holland Beker.  Hasilnya, Indonesia mampu meraih podium pertama dua seri tersebut. Catatan pada seri terakhir Holland Beker pada 30 Juni-1 Juli, Indonesia mengungguli Trinidad Tobago dengan catatan waktu 6 menit 14,75 detik dan Hongkong dengan waktu 6 menit 27,18 detik. ”Tidak ada yang surprise dengan capaian mereka hari ini (kemarin, red). Memang harusnya seperti itu,” ucap pelatih kepala Rowing Indonesia Boudewijn van Opstal.

Tak hanya itu, selama tiga bulan menjalani TC di Negeri Kincir Angin, masing-masing atlet juga dilakukan tes medis yang melibat praktisi sport science di sana. ”Macam-macam tesnya. Salah satunya melakukan tes analisis bio mekanik,” ucap Mr B (sapaan akrab Boudewijn van Opstal).
”Semua praktisi yang terlibat itu rekannya Mr B. Thank you meenir,” imbuh Budiman kepada pelatih asing itu.

Mr . B menyebut, bermain di kandang membawa motivasi lebih bagi anak asuhnya. Dukungan penonton yang hadir menjadi pelecut daya juang atlet untuk merengkuh gelar juara.

Kecam Kinerja Evans
Luis Milla Aspas biasanya selalu tenang dan kalem. Tapi, ekspresi pelatih timnas Indonesia U-23 itu berubah drastis saat sesi jumpa pers seusai laga melawan Uni Emirat Arab (UEA). Milla tak bisa menyembunyikan amarah dan kekecewaannya. Wasit Shaun Evans Robert pun menjadi sasaran kemarahan pelatih dari Spanyol itu.

Ya, Milla sangat kecewa. Sebab, Evans dianggap sebagai biang kerok kegagalan timnas melangkah ke 8 Besar. Wasit dari Australia itu memberikan dua penalti yang kontroversial buat UEA. Penalti pertama diberikan setelah Andy Setyo Nugroho melanggar Zayed Alameri pada menit ke-19. Zayed yang bertindak sebagai algojo berhasil menaklukkan Andritany Ardhiyasa. Timnas bisa menyamakan skor melalui Alberto Goncalves (52). Namun, lagi-lagi Evans memberikan penalti buat UEA pada menit ke-64. Evans menganggap Hansamu Yama telah menjatuhkan Shaheen Aldarmki. Padahal, dalam tayangan ulang terlihat, tak ada kontak fisik antara kedua pemain. Timnas akhirnya bisa memaksakan perpanjangan waktu setelah Stefano Lilipaly mencetak gol penyeimbang di masa injury time.

”Pemain UEA sangat luar biasa, berhasil membuat kami kalah. Pemain UEA adalah wasit,” sindir Milla dengan nada tinggi.

Milla makin kesal lantaran Evans membiarkan pelanggaran keras pemain UEA. Terutama pada menit ke-103, ketika Ilham Udin Armayn dilanggar Mohamed Alshamsi. Seharusnya, pelanggaran tersebut berbuah kartu merah kepada Alshamsi. Sebab, Ilham sudah berada dalam posisi menguntungkan untuk mencetak gol. ”Seharusnya, UEA bermain dengan 10 pemain saat itu. Tapi, justru wasit memberikan kartu kuning saja. Kami tuan rumah, tapi kok seperti ini,” keluhnya.

”Wasit hari ini (kemarin, red) tidak punya level untuk memimpin pertandingan. Dia tidak layak dilanjutkan di Asian Games,” lanjut Milla yang kali ini tak bisa menahan linangan air matanya.

Meski dirugikan keputusan wasit, Milla tetap bangga dengan perjuangan anak asuhnya. Apalagi, statistik menunjukkan bahwa timnas mendominasi penguasaan bola dan melepaskan total 19 tembakan. Sayang, mereka harus menyerah lewat adu penalti. Itu terjadi setelah tembakan dua algojo timnas, Septian David Maulana dan Saddil Ramdani, tak mampu membobol gawang Mohamed Alshamsi. Sementara itu, dari lima penendang UEA, hanya eksekusi Abdalla Ghanim Alalawi yang tak berbuah gol.

”Kami tidak berhak tereliminasi. Sepakbola itu kejam, tapi terima kasih. Paling tidak, pemain sudah memberi kebanggaan terhadap suporternya,” ucapnya.

Andritany Ardhiyasa sepakat dengan yang dikatakan pelatihnya. ”Penalti kedua itu tidak layak. Pertandingan kami dirampok wasit,” kecam kiper Persija Jakarta tersebut. Sebaliknya, kubu UEA merasa tak diuntungkan oleh wasit. ”Keputusannya tepat dan benar. Tidak ada yang salah,” ungkap pelatih UEA Magiet Skorza.(han/rid/c11/bas/jpg)




 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=188299&kat=4

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi