Riaupos.co

Bronkopneumonia pada Bayi, Jarang Diketahui
2018-07-02 11:50:19 WIB
 
Bronkopneumonia pada Bayi, Jarang Diketahui
 
PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Menjadi ibu baru merupakan pengalaman yang menyenangkan. Merawat bayi mungil agar tetap sehat dan tumbuh besar bukanlah tugas yang mudah. Terlebih bayi rentan diserang berbagai penyakit. Salah satu yang paling sering terjadi pada bayi adalah penyakit bronkopneumonia. Ladies pasti nggak mau kan si kecil yang lagi lucu-lucunya menderita penyakit tersebut? Yuk simak ulasan tema sehat kali ini.

Bronkopneumonia sendiri adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran napas bagian bawah. Menurut salah seorang dokter wanita dr Sarah Rahmayani, kasus bronkopneumonia terbanyak ditemukan di puskesmas, rumah sakit ataupun praktik-praktik dokter. Tetapi jarang diketahui para orangtua.

“Padahal bronkopneumonia kerap mengancam nyawa bayi bahkan bayi yang baru lahir. Bronkopneumonia ini istilah medis yang menyatakan terjadi peradangan pada saluran udara dan kantong udara paru-paru anak. Sehingga menyebabkan flek pada paru anak. Seseorang yang menderita bronkopneumonia bisa merasakan sulit bernapas sebagai akibat terhalangnya saluran udara,” terangnya.

Dr Sarah melanjutkan, peradangan yang terjadi bisa bersifat ringan atau berat tergantung pada penyebabnya. Jadi, ada yang radang mudah sembuh, ada pula yang berbahaya hingga mengancam kesehatan anak. Penyebabnya adalah beragam mikroorganisme, seperti dari virus, bakteri, jamur. Pada dasarnya, bronkopneumonia paling umum disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae.

Kuman-kuman ini mencapai paru-paru melalui beberapa rute, seperti yang tersering kuman di udara kotor terhirup melalui hidung dan tenggorokan sampai ke paru dan terjadi infeksi. Bayi atau anak tertular penyakit saluran napas ini bisa karena tertular oleh temannya, orangtua atau orang yang ada di sekelilingnya. Nah, sebagai orangtua, Ladies harus semakin waspada nih. Jangan sampai kamu atau orang terdekat justru menularkan penyakit pada si kecilmu.

Lingkungan yang pengap dengan sirkulasi udara kurang baik dan banyak alergen seperti debu, asap rokok, asap pabrik, asap kendaraan bermotor serta polusi udara lainnya juga bisa menyebabkan anak mengalami radang paru-paru ini.

“Polusi udara dan paparan asap rokok bisa merusak kerja daya tahan tubuh di saluran pernapasan. Sehingga kuman yang menyebabkan pneumonia akan lebih mudah masuk. Ada sejumlah faktor yang membuat balita mudah terserang bronkopneumonia, yaitu jika anak sering mengalami infeksi saluran napas akut berulang, imunisasi tidak memadai dan mengalami kekurangan gizi,” paparnya.

Buat kamu si ibu baru, harus segera periksa jika menemukan gejala-gejala dari bronkopneumonia pada anak. Gejala bronkopneumonia pada anak sendiri bermacam-macam. Tergantung usia dan penyebabnya.  Biasanya didahului gejela selesma seperti demam, batuk pilek, hilang nafsu makan.

Nah, karena gejala awalnya mirip selesma biasa, maka orangtua sering mengabaikan penyakit ini Ladies. Padahal, penyakit ini berbahaya karena dapat menyebabkan kematian pada anak akibat paru-paru tidak dapat menjalankan fungsinya untuk mendapatkan oksigen bagi tubuh. Pada perkembangan selanjutnya, barulah muncul gejala napas cepat dan sesak napas.

“Kebanyakan orangtua tidak mengetahui bahwa si anak terkena gejala bronkopneumonia. Karena tanda-tanda awalnya memang seperti flu atau demam pada umumnya. Jadi orangtua tidak memeriksakan si kecil lebih lanjut. Padahal, tindakan tersebut sama saja membiarkan bronkopneumonia semakin berkembang,” sambungnya lagi.

Menurutnya,  harus bisa menghitung napas anaknya agar bisa mengenali apa itu napas cepat. Jika anak usia kurang 2 bulan, napasnya lebih dari 60 kali per menit. Sedangkan usia 2-12 bulan, napasnya lebih dari 50 kali per menit. Untuk anak usia 1-5 tahun, napasnya lebih 40 kali per menit. Dengan mengetahui hal tersebut, Ladies bisa segera mengambil sikap jika si kecil mengalami masalah pernapasan.


Sesak napasnya ditandai dengan napas pendek dan hidung kembang kempis. Yang lebih berat lagi ditandai dengan tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, kejang, hingga penurunan kesadaran.

“Orangtua sebaiknya jangan menunggu sampai anak berbaring lemas untuk memastikan bahwa anak memang sakit. Ketika tampak anak bernapas cepat, segeralah bawa ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegas dokter berhijab ini.

Lantas, mengapa bronkopneumonia ini sering menyerang bayi dan balita ya moms?
Jawabannya adalah karena sistem kekebalan tubuhnya yang masih rendah. Saat bayi lahir, dia mendapatkan zat kekebalan tubuh dari ibunya dan juga didapatkan dari ASI. Tapi, kekebalan tubuh dari ibu ini akan menurun dan menghilang seiring bertambah usia dan sejak bayi sudah tidak mendapatkan ASI lagi.

Kondisi imunitas yang rendah dan tak adanya tambahan imun dari sang ibu yang membuat daya tahan tubuh si anak menjadi berkurang. Antara daya tahan tubuh dan kekuatan kuman yang menginfeksi tidak seimbang. Ketidakmampuan tubuh menghadapi serangan kuman Streptococcus pneumoniae inilah yang menyebabkan anak di bawah umur lima tahun akhirnya terserang bronkopneumonia.

Jika Ladies nggak waspada dan segera menangani si kecil yang terserang bronkopneumonia, risiko berat harus siap dihadapi. Dikatakan dr Sarah, bronkopneumonia yang berat dapat mengganggu pertukaran udara di paru-paru. Sehingga darah yang dialirkan ke seluruh tubuh menjadi miskin oksigen. Hal ini dapat menyebabkan gangguan pada berbagai organ. Misalnya gangguan saraf pada bayi maupun anak-anak dan gangguan motorik anak.

“Di tahap ini, respon anak akan melambat. Sehingga tidak dapat berkembang atau tumbuh dengan baik. Akibat berkurangnya oksigen ke otak, maka fungsi seluruh organ tubuh menjadi tidak optimal. Lalu, jika terlalu sering sesak napas maka hal ini dapat berakibat kehilangan kesadaran pada anak. Hal tersebut terutama saat pasokan oksigen semakin sering mengalami gangguan. Akibatnya, otak dan saraf tidak menerima cukup nutrisi, dan bisa menyebabkan kehilangan kesadaran. Nah, apabila efek yang terjadi pada anak sudah terlalu parah, maka bisa jadi hal ini bisa menyebabkan gagal napas dan mengancam nyawa,” paparnya lagi.

Ngeri ya Ladies. Nggak kebayang si buah hati yang masih ringkih dan nggak berdaya harus mengalami sakit yang  menyiksa seperti itu. Penanganan medis untuk kasus bronkopneumonia biasanya pemberian terapi oksigen untuk mencukupi keperluan oksigen dalam tubuh.

Ada pula pemberian terapi simtomatik. Merupakan pemberian obat-obatan simtomatik untuk meringankan gejala-gejala seperti demam, dahak produktif, obstruksi saluran napas dan batuk.

Langkah lainnya adalah pemberian terapi cairan. Cairan ini sangat diperlukan oleh tubuh. Karena sebagian besar tubuh mengandung cairan, apalagi pada anak. Kekurangan cairan dapat menyebabkan dehidrasi, untuk itu dengan diberikan infus cairan maka keperluan dasar tubuh akan tercukupi.

Kamudian, ada pemberian antibiotik. Obat-obat antibiotik diresepkan sesuai dengan mikroorganisme yang menyebabkan bronkopneumonia terjadi. Antibiotik harus diberikan dengan dosis yang tepat dan teratur. Dalam 1-2 pekan anak bisa sembuh total, tergantung imunitasnya juga.

So Ladies, sebelum terlambat, yuk awasi tumbuh kembang si kecil. Jangan sampai deh kita menyesal di kemudian hari. Lakukanlah upaya pencegahan dari si bronkopneumonia.  Hal ini mudah dilakukan. Berikan ASI eksklusif (6 bulan pertama) untuk meningkatkan kekebalan tubuh melawan penyakit dan berikan makanan pendamping ASI dengan nutrisi tinggi, terutama yang mengandung vitamin A dan mineral seng. Lalu, imunisasi lengkap, yaitu imunisasi HIB berguna mencegah bronkopneumonia yang sudah termasuk dalam program pemerintah, dikombinasikan dengan vaksin DPT (difteri pertusis tetanus) dan vaksin hepatitis B.

Kamu juga bisa melakukan pencegahan dengan imunisasi pneumokpkus. Tapi sayangnya, belum dimasukkan sebagai imunisasi dasar rutin di Indonesia. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal dari polusi udara. Seperti asap rokok, pembakaran sampah, kendaraan, kebersihan rumah dan ventilasi udara yang baik, juga mengolah makanan secara bersih.(azr)

Laporan SITI AZURA, Pekanbaru



 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=185426&kat=45

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi