Riaupos.co

Waspada Difteri Di Negara Berkembang
2018-08-27 13:50:46 WIB
 
Waspada Difteri Di Negara Berkembang
 
(RIAUPOS.CO) - Beberapa waktu lalu, difteri sempat booming. Korban akibat penularan penyakit satu ini mulai berjatuhan. Banyak di antaranya adalah para anak. Gejalanya yang kadang tidak terdeteksi membuat seseorang yang terserang dan lingkungannya tak menyadari adanya penyakit satu ini. Namun, diam-diam, difteri yang ia miliki, menyebar kepada orang-orang di sekitarnya.

Ladies wajib banget deh waspada dengan penyakit satu ini. Difteri merupakan salah satu penyakit yang cukup mudah penularannya. Apalagi di kalangan anak-anak moms. Lebih lanjut, dr Dewi Anggraini SpMK menjelaskan, bahwa difteri merupakan jenis penyakit infeksi yang menular.

“Difteri adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Corynebacterium diphteriae. Dengan manifestasi penyakit pada saluran napas dan kulit. Sebagian orang yang terinfeksi bakteri ini, tidak memperlihatkan gejala. Namun bisa menularkan kepada orang lain,” ujarnya.

Dokter spesialis mikrobiologi Klinik lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini memaparkan bahwa, pada awal abad ke-20, sebelum vaksin difteri ditemukan, penyakit ini merupakan penyebab kesakitan dan kematian utama pada anak usia di bawah 15 tahun di seluruh dunia.

Saat ini, di negara maju penyakit ini relatif jarang. Namun, di negara berkembang yang berada di Afrika, Asia, termasuk Indonesia, Timur Tengah dan sebagian Eropa, penyakit ini masih menjadi masalah serius. Dikarenakan cakupan vaksin yang tidak menyeluruh.

“Permasalahan negara berkembang salah satunya adalah, vaksin yang tidak merata. Kita harus menilai dari pelaksanaaan program vaksin dari pemerintah. Namun, adanya paham antivaksin yang berkembang belakangan ini, sangat mengkhawatirkan. Golongan antivaksin membawa isu agama ke dalamnya. Edukasi yang terus menerus harus kita lakukan agar vaksin ini bisa menyeluruh diberikan. Dengan begitu, angka korban difteri bisa ditekan,” ujar Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Riau ini.

Ia melanjutkan,  bakteri C diphteriae memproduksi toksin yang dapat menyebabkan kematian sel. Penyakit difteri ditularkan melalui kontak erat dengan material infeksius dari penderita.  Berupa titik-titik  ludah atau sekret dari kulit yang terkena.

Penyakit difteri paling sering menimpa anak usia kurang dari 15 tahun. Penyakit difteri yang tersering mengenai saluran napas. Gejalanya dimulai dengan demam, lemas, nyeri saat menelan dan pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher. Kemudian, akan terbentuk lapisan keabu-abuan di tenggorokan. Lapisan ini bisa dibilang yang paling khas untuk penyakit ini.

“Lapisan ini dapat meliputi seluruh tenggorokan yang disertai pembengkakan area tersebut. Sehingga, dapat menyebabkan kesulitan atau sumbatan saluran napas yang dapat menyebabkan kematian. Toksin difteri yg menyebar ke seluruh tubuh juga dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal dan sistem syaraf yang juga menyebabkan kematian,” terangnya.

Wah, bahaya juga nih kalau dibiarkan. Lebih lanjut, dokter spesialis RSUD Arifin Achmad ini kembali menekankan, bahwa penderita difteri dapat diobati dengan memberikan anti toksin untuk menetralisir toksinnya dan antibiotik untuk mematikan kumannya. Di samping juga pengamanan saluran napas, pemantauan jantung dan sistem syaraf.

Jika dibiarkan, angka kematian akan meningkat jika pasien tidak segera diberikan anti toksin. Apalagi, jika yang terserang adalah sang buah hati yang belum bisa mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang salah pada dirinya.

So, Mommy harus lebih waspada lagi akan tumbuh kembang dan kesehatan sang buah hati. Mengingat difteri ini rentan menyerang anak usia di bawah 15 tahun. Jangan sampai, gejala yang sudah ada justru terabaikan karena kurangnya kepekaan kita pada anak. Vaksin difteri juga perlu diberikan sesuai dengan jadwalnya. Menurut dokter Dewi, hal ini menjadi penting. Sebab, vaksin mampu mencegah anak dari difteri. Sehingga, tubuhnya bisa menjadi lebih kuat dan tidak mudah terserang dari penyakit mematikan ini Ladies.(azr/aga)Penyebaran bakteri penyebab difteri ini dapat terjadi dengan mudah. Terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai.

- Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.

- Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

- Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

- Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

- Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

- Demam dan menggigil.

- Sakit tenggorokan dan suara serak.

- Sulit bernapas atau napas yang cepat.

- Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.

- Lemas dan lelah.

- Pilek.

Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah. Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit. Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.(int)


 

 
URL berita: http://www.riaupos.co/berita.php?act=full&id=188370&kat=45

 
© 2015 Riaupos.co | Hak Cipta Dilindungi