Zat aditif dalam makanan

Awas, Jajanan Anak-Anak

13 November 2011 - 08.40 WIB > Dibaca 1486 kali | Komentar
 
Ditemukannya sejumlah makanan dan jajanan yang terindentifikasi mengandung zat-zat kimia berbahaya menimbulkan keresahan orangtua siswa. Apalagi bila dikonsumsi dalam jumlah waktu yang relatif lama, zat berbahaya bisa meracuni anak-anak.
 
Laporan LISMAR SUMIRAT, Pekanbaru
lismar-sumirat@riaupos.com

SUATU pagi di sebuah sekolah dasar (SD) di Pekanbaru. Sejumlah mahasiswa jurusan Analisis Farmasi dan Makanan Universitas Aburrab melakukan uji sampel terhadap 150 jajanan sekolah dilokasi berbeda-beda. Setelah terkumpul, sampel jajanan itu dibawa ke laboratorium Universitas Abdurab. Dari uji sampel tersebut ditemukan zat-zat berbahaya bagi tubuh manusia seperti pewarna tekstil (rhodamin B). Hasil uji sampel juga menyimpulkan 30 persen jajanan mengandung bahan berbahaya. Salah satu jajanan sekolah ditemukan pemanis buatan yang berlebihan. Pemanis ini ditemukan pada jajanan gula kapas.

 Praktisi medis dr Susiana Tabrani memaparkan  pengunaan pemanis buatan, borax, rhodamin B dan zat berbahaya lainnya dalam jangka waktu panjang akan mengakibatkan gangguan fungsi hati, ginjal dan kanker.  “Sekitar 30 persen dari jajanan siswa sekolah masuk kategori tidak aman dan berpotensi meracuni kesehatan anak-anak. Jika terus dikonsumsi dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan penyakit kanker,’’ jelasnya.

 Susi menyebutkan perlunya upaya sekolah melakukan penertiban pedagang di luar pagar sekolah. Apalagi jajanan tersebut tidak terjamin kebersihan baik dari segi produk ataupun wadahnya. Belum lagi jajanan luar dikuatirkan juga menggunakan zat-zat yang dilarang untuk dikonsumsi manusia terutama anak-anak sekolah.
 
 “Upaya nyata adalah BPOM melakukan sosialisasi ke sekolah dan jika diperlukan bisa mengirimkan surat edaran ke sekolah. Bisa juga melibatan Puskesmas khususnya dalam menjelaskan standar makanan sehat. Anak usia SD sangat rentan terhadap makanan kotor dan mengandung borax, formalin dan rhodamin B. Jangan sampai mereka teracuni oleh zat berbahaya tersebut,’’ ucap Susi.

 Guna mencegah hal itu, dosen Universitas Tabrani Rab ini menyarankan para orangtua agar membekali anak-anaknya dengan makanan dan minuman dari rumah. Hal itu diyakini bisa menekan terjadinya keracunan makanan pada anak akibat mengkonsumsi jajanan sekolah tidak sehat.  “Lebih baik mencegah daripada mengobati. Persiapkan anak-anak dengan makanan dan minuman dari rumah. Lebih murah dan tentunya lebih sehat,’’ imbuhnya.

Sediakan Kantin Sekolah
Beberapa sekolah mulai melakukan upaya dalam mencegah anak-anak sekolah agar tidak mengkonsumsi jajanan. Salah satunya dengan menyediakan kantin sekolah yang lebih terjamin kebersihan dan produk makanannya. Seperti di SMPN 9 Pekanbaru yang melarang siswanya membeli jajanan sembarangan di luar pagar sekolah.

Sekolah menyediakan kantin yang akan melayani siswa untuk memenuhi kebutuhan makanannya.  “Sekolah kami banyak kantin yang dikelola oleh guru. Kebersihannya selalu kami pantau. Alhamdulillah siswa jadi mudah berbelanja dan lebih terjamin terhindar dari mengkonsumsi jajanan tak jelas asalnya,’’ kata Kepala SMPN 9 Pekanbaru Drs Naharuddin MPd, Jumat (11/11).

Menurutnya, memang diperlukan upaya pencegahan agar anak-anak tidak mengkonsumsi jajanan sembarangan. Apalagi jajanan di luar sekolah yang bisa dipastikan keamanannya untuk dikonsumsi anak sekolah. “Sekolah tetap berusaha mengingatkan siswa agar tidak membeli jajanan sembarangan. Pada waktu sekolah memang bisa kita upayakan, tapi kalau sudah di luar sekolah kami tidak memiliki hak lagi,” katanya.

 SMA Kusuma lebih selektif dalam menyajikan makanan dan minuman untuk siswanya. Pihak sekolah menyediakan katering untuk membantu anak-anak dalam memenuhi kebutuhan konsumsi tubuhnya.  “Katering sudah disiapkan, siswa tinggal mengkonsumsinya saja. Sementara penjual jajanan memang tidak kami beri izin untuk berjualan sekolah. Sehingga makanan dan minuman siswa lebih terjaga kesehatannya,’’ jelas Kepala SMA Kusuma Drs Turman Pakpahan.

Orangtua Resah
Sejumlah orangtua siswa mengaku resah dengan maraknya jajanan yang mengandung zat berbahaya bagi kesehatan. Apalagi para orangtua tidak bisa mengawasi setiap saat aktivitas anaknya terutama saat jam sekolah. Seperti diungkapkan Asram, warga Limapuluh Pekanbaru yang mewanti-wanti anaknya untuk tidak jajan sembarangan.

“Banyaknya pemberitaan mengenai jajanan sekolah berbahaya terus terang sudah meresahkan para orangtua. Khusus anak saya memang sering saya ingatkan agar tidak jajan sembarangan. Jika diperlukan saya siapkan bekal dari rumah,’’ tambahnya.

 Menurutnya, cara yang lebih aman memang menyiapkan makanan dan minuman anak ketika hendak menuju sekolah. Namun terkadang karena kesibukan, tidak setiap waktu dirinya bisa menyiapkan makanan dan minuman untuk anaknya.

Hasil Survei
Di antara jajanan yang beredar luas adapula jajanan berbahaya yang mengandung zat berbahaya di lingkungan rumah kita ataupun dilingkungan sekolah si kecil yang tidak teridentifikasi oleh BPOM. Seperti hasil survei yang pernah dilakukan oleh BPOM pada tahun 2005 BPOM melakukan sidak dibeberapa sekolah terhadap jajanan yang dijajakan disekolah, hal ini dilakukan dalam upaya  melindungi konsumen khususnya anak-anak sekolahan.

Hasilnya sangat mengejutkan. Dari 195 Sekolah dasar di 18 Provinsi diantaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandar Lampung, Denpasar dan Padang ditemukan sedikitnya dari 861 sampel yang diambil terdapat 95 jenis panganan yang mengadung siklamat yang melebihi batas ambang penggunaan dan 30 jenis panganan yang mengadung sakarin dengan batas yang berlebih. Hasil tersebut baru berdasarkan data tentang penggunaan pemanis buatan yang ada pada jajanan sekolah.

Sementara itu dilaporkan bahwa Profil Jajanan Anak Sekolah (PJAS) berdasarkan pengawasan rutin yang dilakukan  Badan Pengawas Obat dan Makanan  (BPOM) dalam lima tahun terakhir (2006-2010) menunjukkan, sebanyak 40-44 persen jajanan anak di sekolah tidak memenuhi syarat keamanan pangan. Berdasarkan pengambilan sampel pangan jajanan anak sekolah di 6 ibu kota provinsi (DKI Jakarta, Serang, Bandung, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya), ditemukan 72,08 persen yang positif mengandung zat berbahaya.

Jajanan di sekolah tersebut mengandung bahan berbahaya yang dilarang digunakan untuk pangan seperti formalin, boraks, zat pewarna rhodamin B dan methanyl yellow. Selain bisa menimbulkan reaksi akut berupa alergi, batuk, diare, atau keracunan, dalam jangka panjang bahan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh itu bisa terakumulasi dan mencetuskan kanker.

Data pengujian mutu kimia dan mikrobiologi yang dilakukan BPOM pada jenis makanan yang termasuk dish menu (olahan beras, olahan mi dan bihun, olahan daging, unggas, ikan, telur, serta olahan sayur)  menemukan 12.98 persen mengandung formalin, boraks 9,74 persen, bakteri S aureus melebihi batas 32,61 persen, dan 45,8 persen memiliki nilai total bakteri (ALT) melebih batas. Sedangkan pada makanan ringan (aneka gorengan, chips, roti, wafer, permen, dan sebagainya) ditemukan 16,6 persen yang mengandung formalin, 22,78 persen memiliki nilai ALT melebihi batas, dan 15,56 sampel mengandung  aureus melebihi batas. Untuk minuman es, ditemukan 69,3 persen sampel yang mengandung E coli melebihi batas yang ditentukan.

Menyikapi temuan ini, Badan POM telah mencanangkan “Gerakan Menuju PJAS yang Aman, Bermutu, dan Bergizi”.  Pencanangan ini mendapat dukungan dari Wakil Presiden Boediono dan telah dilakukan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Ke-10 Badan POM pada 31 Januari lalu. Sebagai tindak lanjut pencanangan gerakan tersebut, BPOM telah menjalin kerja sama lintas sektor. RI telah menandatangani kesepakatan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam melakukan pengawasan dan pembinaan PJAS.

Aksi Nasional Gerakan Menuju PJAS aman, bermutu dan bergizi antara lain meliputi  promosi keamanan pangan melalui komunikasi, penyebaran informasi, dan edukasi bagi komunitas sekolah termasuk guru, murid, orangtua murid, pengelola kantin sekolah, dan penjaja PJAS.  Langkah lainnya adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam pengolahan dan penyajian PJAS yang benar, peningkatan pengawasan keamanan pangan yang dilaksanakan secara mandiri oleh komunitas sekolah, dan pemberdayaan masyarakat termasuk penerapan sanksi sosial (social enforcemen).

Untuk memastikan makanan yang dikonsumsi anak aman, idealnya memang anak dibawakan bekal makanan yang dibuat sendiri di rumah. Namun, jika tidak memungkinkan, sebaiknya para orangtua mulai mengajarkan anak bagaimana mengenali dan memilih jajanan yang sehat dan aman. Ada lima panduan memilih makanan atau jajanan yang sehat (lengkapnya lihat di grafis).(fiz)
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: