Tarian Pengobatan Orang Sakai

17 Juni 2012 - 08.06 WIB > Dibaca 4580 kali | Komentar
 
Tarian Pengobatan Orang Sakai
Bomo kampung Mandi Angin M Darus memperagakan gerakan dan mantera tari Olang-olang di Gedung Olah Seni Taman Budaya Riau, Rabu (15/6/2012). (Foto: Fedli Azis/Riau Pos)
Suku asli yang mendiami ceruk-ceruk Riau seperti suku Talang Mamak, Bonai, Akit, Duano maupun Sakai percaya bahwa seorang bomo (dukun, red) mampu mengobati penyakit yang dialami manusia. Salah satu tata cara pengobatan suku Sakai yang tersebar di kawasan Siak adalah Olang-olang. Tarian pengobatan yang lambat laun berkembang menjadi salah satu kesenian rakyat yang telah dipentaskan diberbagai perhelatan seni, terutama perhelatan adat-istiadat seperti nikah kawin, usai memanen hasil ladang dan lainnya.
 
Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

M Darus, bergerak perlahan-lahan, berjongkok dan sesekali berputar mengikuti hentakan irama yang dihasilkan dari bunyi bebano dan tetawak (gong, red) sembari melafazkan syair serupa mantera yang biasa digunakan dalam tata cara pengobatan suku Sakai atau dikenal dengan istilah dikei. Kesenian itu mereka beri nama tari Olang-olang. Lambat namun pasti, tubuhnya bergerak ringan memasuki dunia memabukkan yang membawanya masuk ke dalam keheningan dan kesendirian. Gerakan menghentak kaki ke lantai serta permainan pergelangan tangan seperti kepak burung terlihat anggun. Bomo Kampung Mandi Angin, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak itu terus saja melompat-lompat kecil dan berputar dengan mata setengah terpejam.

Syair yang dilafazkannya melahirkan nuansa magis dan dilantunkan dengan nada sederhana namun cukup membuat bulu roma berdiri. Syair itu berbunyi;

Anak itik teuwai-uwai
Anak la kumbang telato-lato
Dai la kocik punenen buwai
Olang godang pun main mato
Olang ku sayang

Salak kutai di tonga padang
Pisang seondah cundung ke awan
Menengok olang la menai-nai
Tinggilah ondah munyisik awan olang

Badontum bunyi kaki olang
Olang badontum bunyi kaki
Kaki mumakan obo muontang
Badontum bunyi kaki
Olang balik bualun pulang
Pulang ruh pulanglah insan pulanglah badan soto nyawo
Pulang katokan dalam kalimat la ilahaillah

Lirik dari syair atau mantera ini dilafazkan berulang-ulang seiring dengan gerakan seperti burung terbang. Meskipun M Darus hanya memperlihatkan seni yang menjadi bagian pengobatan orang Sakai, namun pertunjukan tari Olang-olang tersebut cukup mengesankan. Apalagi tarian itu tidak dilakukan sekadarnya, melainkan dengan sungguh-sungguh. Tidak mengherankan, tarian dan syair yang dilafazkannya membuat semua orang yang menontonnya larut dalam suasana magis tersebut.

‘’Olang-olang ini merupakan tarian pengobatan atau dikei, sekaligus berfungsi sebagai hiburan rakyat dalam komunitas Suku Sakai. Tari ini biasa pula dipersembahkan saat perhelatan adat maupun berbagai acara seni,’’ ulas Darus.

Kerasukan Roh Soli
Saat menari Olang (elang, red), penarinya bisa kerasukan roh soli-nya. Soli (hantu, red) merupakan ruh leluhur atau suhu si penari. Menurut Darus, soli itu di masa hidupnya juga seorang bomo dan setelah meninggal rohnya akan terus menjaga orang yang memiliki hubungan sedarah dengannya. Dalam pengobatan, soli kerap memberi petunjuk pada sang bomo untuk mengetahui obat yang diperlukan dalam penyembuhan pasien dan biasanya datang melalui alam mimpi.
 
Tokoh masyarakat Mandi Angin yang kerap menampilkan tari Olang-olang hingga ke mancanegara ini mengilustrasikan, saat menarikan Olang-olang, tubuhnya akan terasa ringan dan bergerak halus dan semuanya bermula dari hati. Perasaan menjadi nyaman dan saat pemikiran mulai kosong, pemandangan terasa di dunia sendiri. Hening dan sepi mengikti suasana yang diciptakan alunan musik. Saat menari, syair bisa dilafazkan beriringan dengan musik atau musik saja atau syair saja asal tidak ada kekosongan atau irama yang putus.

‘’Rasanya seperti sedang mabuk. Gerakkan mengalir tanpa diperintah bagai burung elang yang sedang terbang bebas dan lincah di angkasa. Karena saya seorang bomo dan mengenal soli saya, maka saya bisa mengendalikannya sendiri dengan kata lain saya bisa keluar masuk dunia roh dan dunia nyata saat menari,’’ ungkap pengacara yang juga seniman Sakai tersebut.

Bagi seorang penari pemula, saat melakukan tari Olang-olang harus dikawal atau didampingi seorang bomo. Kerap terjadi, penari pemula tidak henti-hentinya menari karena tak kuasa menahan keinginan soli-nya untuk menari. Bahkan ketika pertunjukan usai, penari terus bergerak dan akan berhenti saat roh yang masuk kelelahan. Jika sudah demikian maka penari akan pingsan namun saat tidak terkendali, bomo bisa segera menghentikannya.    ‘’Saya pernah mencoba itu dengan seorang penari pemula dan dia terus saja menari meski acara sudah habis,’’ kata Darus melepas tawa.

Elang sebagai Perantara
Orang Sakai mempercayai ‘Rajo Olang’ dalam dialek Melayu Sakai yakni ‘Raja Elang’ adalah burung yang mampu terbang ke langit. Bomo akan berinteraksi dengannya sebagai penyampai pesan kepada Tuhan. Artinya, burung elang dijadikan sebagai perantara, antara manusia dan pencipta alam semesta. Namun burung tersebut hanyalah salah satu dari penyampai pesan dari bomo kepada Sang Pencipta, bisa juga burung lain dan binatang lain yang disimbolkan sebagai mahluk yang mampu berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.

Untuk melakukan pemanggilan para penyampai pesan seperti elang, pungguk, kobra, ketam dan sebagainya itu, biasanya dilakukan bomo pada malam hari. Kenapa malam? Darus menyebutkan, pada malam yang gulita diperlukan cahaya api sebagai mata atau pedoman. Bisa dilakukan di dalam rumah atau di halaman. Selain api, juga dipersiapkan keperluan lainnya seperti lilin, beretih, bunga-bungaan dan berbagai aksesoris lainnya seperti buruk kepala kepala satu, kepala dua dan lainnya. Saat dikei dilaksanakan, bomo akan mendapat petunjuk atau ilham pada binatang mana ia harus menyampaikan pesan. Saat itulah, bomo menari diantara cahaya api, sesajen dan pasien yang berbaring maupun duduk. ‘’Olang tu adalah burung elang yang kami simbolkan sebagai soli atau hantu yang bersedia memberikan bantuan untuk mendapatkan petunjuk dari dunia halus yang bermanfaat bagi dunia nyata,’’ jelas Darus meyakinkan.

Asal Nama Kampung Mandi Angin
Secara turun-temurun, warga kampung Mandi Angin yang saat ini masuk dalam kawasan Kecamatan Minas, Kabupaten Siak dan salah satunya M Darus percaya, nama Mandi Angin berasal dari ucapan Sultan Siak terakhir Syarif Kasim II. Dituturkannya, saat Sultan Syarif Kasim II sedang berjalan bersama pembesar istana dan pengawal melalui jalur sungai, beliau singgah di pemukiman Sakai di tepi hutan, tepatnya di kuala Sungai Mandau. Karena merasa gerah, sultan singgah di kampung itu untuk mandi. Ketika melihat rumah tinggi dengan 12 anak tangga, sultan pun menaikinya untuk beristirahat barang sejenak.

Ketika bersantai di rumah tinggi beranak tangga 12 itu, beliau merasa nyaman dan mengurungkan niatnya untuk mandi. Pasalnya, suasana di rumah tinggi, tepatnya rumah pohon itu terasa menyegarkan serta melenakan. Sultan pun mengurungkan niatnya untuk mandi sembari mengatakan, ‘mandi angin’ saja, terdengarlah orang tua-tua Sakai yang ada di sana. Sejak saat itu, mereka pun menamakan kampungnya dari gurauan sultan itu dan sampai bertahan sampai sekarang dengan nama kampung Mandi Angin.

‘’Nama kampung kami berasal dari celetukan Sultan Syarif Kasim yang menyebut mandi angin karena merasa nyaman bersantai di rumah tinggi milik leluhur kami dulu. Mandiangin, Penaso dan Kandis masuk dalam wilayah Batin Lima,’’ sebut Darus.

Sementara itu, asal mula orang Sakai hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Beberapa info dalam berbagai tulisan, baik artikel maupun buku sejarah dikatakan orang Sakai berasal dari negeri Pagaruyung, Sumatera Barat. ‘’Generasi kami meragukan informasi moyang kami dari Pagaruyung dan masih mencari meski belum juga menemukannya. Omong-kosong kalau moyang kami dari Pagaruyung sebab orang-orangnya masuk dalam kategori peradaban Melayu Muda sedang kami Melayu Tua. Tidak mungkin kami berasal dari Melayu Muda, jika banyak ilmuan yang menyebut orang Sakai sebagai Melayu Tua (Proto Melayu),’’ ulasnya.  

Dipaparkan Darus, banyak orang Sakai tidak mengetahui secara pasti asal usul moyang mereka tetapi cerita yang beredar dari mulut ke mulut hingga hari ini, rumpun Melayu terpecah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama tinggal di dalam hutan, jadilah orang Sakai sedangkan kelompok lainnya berpencar ke kawasan-kawasan di Riau jadi Melayu Riau dan Pagaruyung menjadi Melayu Minang. ‘’Artinya, kami bukan dari Pagaruyung atau Melayu Minang. Kami Melayu Sakai yang hidup di hutan-hutan Riau hingga hari ini,’’ tegas M Darus.***
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: