Pesan Moral dalam Cerpen ’’Gadis Penenun Tapis’’

27 Januari 2013 - 08.00 WIB > Dibaca 1236 kali | Komentar
 
Siapa yang tak kenal novel Siti Nurbaya? Hampir dapat dipastikan setiap orang yang pernah mengenyam pendidikan formal akan tahu dan akrab  dengan novel tersebut. Bahkan masyarakat juga mengetahui tokoh-tokohnya, termasuk tokoh antagonis Datuk Maringgih. Tokoh Datuk Maringgih dalam novel Siti Nurbaya digambarkan sebagai tokoh yang buruk, jahat, keji dan sebagainya.

Ia dianggap sebagai rentenir yang menyusahkan banyak orang dan juga predikat-predikat lain yang negatif terhadap Datuk Maringgih tersebut. Bahkan, sampai novel tersebut diangkat ke layar lebar pun, tokoh Datuk Maringgih tetap digambarkan sebagai tokoh antagonis, yaitu tokoh yang cenderung dipersepsikan negatif oleh sebagian besar orang.

Sebuah cerita tentang kasih tak sampai, cerita yang sangat apik dikarang oleh Marah Rusli terbitan Balai Pustaka di era 1920-an. Dengan latar belakang adat budaya Minangkabau, novel ini berkisah tentang percintaan sepasang kekasih, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri yang gagal karena keadaan dan budaya pada masa itu. Siti Nurbaya dipaksa menikah dengan saudagar kaya tapi sudah tua yang bernama Datuk Maringgih. Kisah cinta yang berakhir tragis karena ia bunuh diri.

Pada masa itu memang tak ada gadis yang berani menentang orangtuanya apalagi masalah jodoh, meskipun umurnya masih belasan tahun, orangtua sudah mempersiapkan jodoh untuk anak gadisnya kelak. Itu yang pernah dikatakan oleh orang-orang tua ketika bercerita tentang masa mudanya.

Sekarang budaya perjodohan sudah mulai berkurang, hampir semua anak gadis menentang perjodohan, mereka selalu bilang ‘’ini bukan zaman Siti Nurbaya. Sebenarnya tidak ada orang tua yang ingin melihat anaknya sengsara, meski mungkin orangtuanya Siti hanya melihat dari kacamata materi semata. Segalanya butuh uang tapi uang bukan segalanya. Hari ini siapa yang  tak butuh uang. Bahkan di zaman sekarang ini telah muncul manusia-manusia yang mendewakan uang. Mereka berpikir dengan uang bisa membeli segalanya. Tak salah jika ada orangtua yang menjodohkan anaknya karena uang, mungkin orangtuanya tak mau melihat anaknya hidup kekurangan. Tapi bukankah masih ada jalan lain?

Lalu dalam cerpen ‘’Gadis Penenun Tapis’’ nampaknya pengarang sengaja mengambil setting dan latar yang setidaknya mengambarkan kondisi kekhawatiran yang sangat akut orangtua terhadap anak tentang kebahagiaannya dan memvonis bahwa pendidikan itu tidak akan membuahkan hasil.

‘’Cukuplah kau sekolah sampai tamat SMA saja. Kau itu perempuan, percuma sekolah tinggi-tinggi, tak bakal jadi orang. Lebih baik kau tunak di rumah menenun tapis untuk menghasilkan uang. Lagi pula gadis seumuran kau sudah sepantasnya berumahtangga. Abah juga ingin sekali kau cepat-cepat menikah.’’

Di kalangan orangtua kadang hanya slogan anak durhaka kepada orangtua tetapi sesungguhnya pada hari ini banyak orangtua yang durhaka kepada anaknya bagaimana mungkin? Kita banyak menemukan anak yang ingkar kepada orangtua. Kita kadang-kadang jengkel kepada mereka bila tidak pernah sejalan dengan kemauan orangtua. Bila anak tidak mengerjakan perintah, otak kita yang telah terisi oleh akumulasi ilmu dan pengetahuan agama sejak anak-anak dahulu hingga sekarang menjadi orangtua, mungkin langsung memberikan perintah kepada tangan untuk memukul dan mulut untuk mengucapkan kata-kata makian, celaan dan umpatan. Kondisi ini perlu diwaspadai bila tindakan dan ucapan dari perintah otak itu sudah turun ke hati dan menjadi sebuah keyakinan lalu memunculkan sebuah kesimpulan, bahwa sang anak telah durhaka kepada orangtua. Anakku, mana baktimu? Pernyataan seperti ini kadang-kadang membangun pemahaman yang tidak berimbang pada orangtua. Mereka selalu menuntut agar hak agama ini terpenuhi dan bila tidak terpenuhi selalu anak yang disalahkan.   

Seseorang pernah datang kepada Umar bin Al-Khaththab ra dan mengadukan anaknya, ‘’Anakku ini benar-benar telah durhaka kepadaku.’’ ‘’Apakah engkau tidak takut kepada Allah dengan durhaka kepada ayahmu, Nak? Karena itu adalah hak orangtua,’’ kata Umar kepada sang anak. ‘’Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak juga punya hak atas orangtuanya?’’ ‘’Benar, haknya adalah memilihkan ibu yang baik, memberi nama yang bagus, dan mengajarkan Al-Kitab (Alquran).’’

‘’Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik. Ibuku adalah hamba sahaya jelek berkulit hitam yang dibelinya dari pasar seharga 400 dirham. Ia tidak memberi nama yang baik untukku. Ia menamaiku Jual. Dan dia juga tidak mengajarkan Alquran kepadaku kecuali satu ayat saja.’’ Ju’al adalah sejenis kumbang yang selalu bergumul pada kotoran hewan. Bisa juga diartikan seorang yang berkulit hitam dan berparas jelek atau orang yang emosional. ( Al-Qamus Al-Muhith, hal. 977).

Umar menoleh ke sang ayah dan berkata, ‘’Engkau mengatakan anakmu telah durhaka kepadamu tetapi engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Pergilah Engkau  dari hadapanku!.’’ ( As-Samarqandi, Tahbihul Ghafilin, 130).

Ibnul Qayyim berkata, ‘’Siapa yang mengabaikan edukasi yang bermanfaat untuk anaknya dan membiarkannya begitu saja, maka ia telah melakukan `tindakan terburuk terhadap anaknya itu. Kerusakan anak-anak itu kebanyakan bersumber dari orangtua yang membiarkan mereka dan tidak mengajarkan kewajiban-kewajiban dan sunnah din ini kepada mereka. Mereka tidak memperhatikan masalah-masalah agama tersebut saat masih kecil, sehingga saat sudah besar mereka sulit meraih manfaat dari pelajaran agama dan tidak bisa memberikan manfaat bagi orangtua mereka.’’ (Tuhfatul Maudud, I: 229).

Karena itu, jangan tergesa-gesa mencela anak. Ada banyak hak anak atas orangtuanya. Bila salah satu sisinya diabaikan, lalu anak menjadi bandel, menyimpang, dan keras kepala, ada kemungkinan kita tidak memperhatikan sisi tersebut.

Dalam cerpen ‘’Gadis Penenun Tapis’’ yang dimuat pada 13 Januari 2013, di sana mengambarkan seolah-olah anaklah yang menjadi perusak harapan orangtuanya. Seharusnya ia menilai kembali sejauh mana peranannya dalam mendidik anak tersebut, sehingga kelak harapan itu memang menjadi kenyataan. Dan di akhir cerita  pengarang terlalu memaksakan diri dan tergesa-gesa untuk mengakhiri cerita itu dengan agak sadis dan rasanya kurang sempurna jika harus demikian.

Bukkk!! Pukulan keras itu menghantam wajah Mak. Tubuh Mak terjungkal, kepalanya membentur dinding. Darah segar muncrat, berhamburan di lantai. Namun Mak yang terkapar di lantai tak mampu mendengar apapun lagi. Tubuh Mak telah dingin membeku.***


Edi Sarjani

Peminat sastra, bermastautin di Pekanbaru.
KOMENTAR

Follow Us

Riau Pos Group
Support by: